Senin, 12 November 2012

Menulis

Malam-malam begini, harusnya saya berkutat dengan setumpuk tugas kuliah yang masih menunggu untuk saya elus-elus. Nyatanya, saya tak peduli dengan semua itu. Prokastinasi, biarlah.. saya sedang asyik dengan latihan dasar menjadi seorang wartawan, menulis. Lantas, saya buka buku catatan saya saat mengikuti seminar kepenulisan beberapa bulan yang lalu, dan tiba-tiba laptop saya restart tanpa pemberitahuan, membuat saya ingin berteriak. Belakangan laptop saya memang sering mati suri mendadak semenjak berobat ke sebuah klinik komputer. Apa karena upgrading yang dilakukan tidak mampu di emban oleh laptop saya yang sudah paruh baya ini? jawabnya, belum tahu.

Kembali saya membaca tulisan yang saya tulis dibuku tersebut. Lepaskan pemikiran, tulis untuk memperjuangkan diri sendiri, menulis dianggap sedekah, humanisme, lupakan soal profesionalisme, berfikir tidak seragam, terlalu normatif membuat tidak kreatif, serta kalimat terakhir yang cukup panjang ditulis berbunyi : "Hal yang ajeg terkadang membuat bosan, setiap wartawan menghasilkan berita dimana tidak semua karya-karyanya merupakan masterpiece, adakalanya mereka menulis berita yang skalanya mungkin tidak diperhitungkan oleh masyarakat. Poin-poin diatas adalah serangkaian nasihat-nasihat dari para penulis dan mantan penulis yang sudah berkecimpung cukup lama di bidang per-tulis-an ini.

Poin pertama melepaskan pemikiran. Seringnya, ketika proses menulis itu kita jalani banyak hal-hal yang terlalu rigid dipikirkan, mengenai teknis penulisan hingga perihal yang ditulis itu sendiri. Disampaikan pada poin ke tujuh pula tentang kenormatifan yang terkadang membuat kita tidak kreatif. Padahal, menurut saya menulis itu ialah salah satu terapi untuk meluapkan emosi. Sebab, kita meluapkan apa yang ada di pikiran kita saat itu. Masalah apakah yang kita tulis itu bermakna atau tidak, bisa kita nilai setelah kita sudah menulis semua yang ingin diungkapkan. Harapannya, ketika kita membaca ulang lagi kita jadi paham apa yang barusan kita tulis tadi, dan ada proses berpikir sesudahnya, seolah-olah menjadi cermin bagi diri kita.

Selanjutnya, berfikir tidak seragam, saya suka dengan istilah ini. Keberagaman dalam hal tulis menulis menarik untuk dicermati. Gaya bahasa, dan alur pemikiran yang bermacam-macam bisa kita jadikan sebagai tabungan referensi, tentunya tanpa merubah karakteristik kepunulisan asli kita. Dengan hanya membaca tulisan seseorang kita dapat langsung mengetahui siapa dalang dibalik tulisan ini. Karakteristik tulisan tersebut terlalu menempel kuat sehingga kita mampu menebak siapa penulisnya. 

Menulis pun erat kaitannya dengan masalah membaca. Saya lupa siapa teman saya yang pernah berkata itu, tapi saya menangkap maksud dibalik kata-katanya kurang lebih menyiratkan bahwa dengan membaca kita menjadi lebih mudah untuk menulis. Ya membaca & berdiskusi berpotensi menyumbang kekayaan tulisan kita, baik dari segi isi maupun redaksi kata-katanya. Namun, kebingungan kadang kala memberi ide juga dalam proses menulis. Saya sering bingung katika akan memulai menulis, karena saya tidak tahu apa yang mau saya tulis. Benar-benar tidak ada ide di kepala saya. Maka, apa yang saya tulis akhirnya mengenai kebingungan saya sendiri.

Gong dari poin di atas, adakalanya seorang penulis tidak menulis karya yang dianggap luar biasa oleh pembacanya. Manusia memang bukan mahluk yang sempurna, banyak faktor melatarbelakangi mengapa hal itu bisa terjadi. Ini menunjukkan sebuah tulisan adalah hal yang relatif, sama seperti saat kita mengatakan masakan ini enak dan orang disebelah kita mungkin akan mengatakan hambar. Tapi, tak usah hiraukan itu karena seperti yang dikatakan kemarin dalam seminar, menulis = mengidentifikasi diri. Menulis berjuang untuk menemukan cara menulis itu sendiri.