Selasa, 24 Juni 2014

Song Gilap

Salah satu kegiatan alam yang menurut saya menakutkan adalah caving. Mungkin karena pengaruh dari beberapa film yang pernah saya tonton juga, sehingga membuat anggapan bahwa goa itu menakutkan. Suasana gelap, pengap, lembab, berbatu-batu menambah liar pikiran saya. Ketakutan semisal bertemu mahluk goa dan penunggu-penunggunya campur aduk di kepala.

Kebetulan di kampus saya ada tawaran untuk fun caving. Saya memang suka bercengkrama dengan alam tapi kalau caving, saya berasa sedikit gimana gitu. Nah, yang kala itu ditawarkan memang hanya fun caving, maka jadilah saya ikut kegiatan tersebut. Saya memang takut dan seumur hidup belum pernah caving. Jangankan caving, naik gunung saja saya belum pernah.

Lokasi saya caving lumayan jauh di daerah Ponjong, Gunung Kidul. Saya terperangah melihat mulut goa yang besarnya Subhanallah, gede banget. Goa yang saya masuki berjenis horizontal. Peralatan yang saya kenakan berupa pelampung, helm, headlamp dan boots. Jalan menuju goa berupa tangga, yang entah berapa banyak jumlahnya. Selebihnya ialah gundukan batu dan tanah merah.

Saya khawatir terpeleset disana, karena medannya cukup licin dan berlumpur. Saya turun pelan-pelan sambil terus baca-baca doa. Turunannya sedikit terjal, tapi dasarnya saya penakut makanya saya paling lama sampainya. Di dalam goa terdapat aliran air yang cukup bervariasi kedalamannya, pertama kali sampai jalur air yang harus dilewati berketinggian sedada orang dewasa.

Saya teringat trauma waktu KKN dulu, yang hampir tenggelam dan menenggelamkan orang lain. Lantas, paniklah saya dan saya jadi heboh sendiri. Saya takut kejadian KKN terulang lagi, Naudzubillah. Alhamdulillah saya mengapung, saya bertekad kali ini saya tidak boleh menyusahkan orang lain. Diantara peserta yang lain, saya merasa sayalah yang paling lelet dan heboh sendiri. Saya begitu sebenarnya untuk mengalihkan rasa takut saya masuk goa.

Jalan sepanjang goa benar-benar gelap, lembab, licin, dan berbatu tajam. Airnya berlumpur dan beberapa kali boot  saya menempel sehingga memperberat langkah. Di spot-spot tertentu saya istirahat sambil main-main air yang mengalir. Wah, airnya benar-benar bikin segar. Saya senang duduk-duduk di atas batu yang dialiri air. Kapan lagi saya bisa begitu.

Selama perjalanan sepanjang 2KM lebih terasa seperti di wahana istana boneka DUFAN. Hanya saja tidak pakai kereta, tapi kita sendiri yang berjalan-jalan. Hewan yang saya temukan berupa kepiting dan sejenis jangkrik. Alhamdulillah saya tidak bertemu dengan the most scary animal “ULAR…”.

Saya tidak sampai ujung menyusuri goa tersebut karena waktu yang mepet. Perjalanan susur goa ini berakhir di tempat yang disebut dengan air terjun. Air terjun ini seperti sebuah lubang kecil dan terdapat aliran air yang deras dari sisi atas. Untuk masuk ke air terjun harus dengan memanjat dinding goa. Aih, segar nian saya duduk sambil disiram air dari stalaktit. Saya cuci muka biar tambah segar.

Sebelumnya, saya dan teman-teman mapala kampus melakukan upacara. Wah, saya berasa jadi mapala, hehehe. Semua headlamp dimatikan, dan tidak ada apa-apa yang bisa dilihat, hanya kegelapan.  Saya berasa kecil, saya membayangkan setiap orang kelak pasti berjalan sendiri dengan amalannya masing-masing yang menjadi penerangnya. Bisa redup kaya lilin atau terang kaya lampu LED. Saya dan teman-teman mapala duduk melingkar dan kemudian menyanyikan himne mapala kampus saya. Keren…

Perjalanan pulang itu memang rasanya selalu lebih singkat daripada berangkatnya. Bisa jadi karena saya juga sudah beradaptasi dengan lingkungan dan mulai menikmatinya. Di dalam goa banyak sekali ornamen seperti stalaktit, stalakmit, gorden dan gordam. Saya jadi tahu apa itu gordam dan ornamen-ornamen goa lainnya. Ternyata goa itu menarik, tidak juga seseram yang saya kira. Kesan menakutkan memang tidak dipungkiri, tapi kalau kesana ramai-ramai bersama teman-teman rasanya menyenangkan.

Bagian favorit saya adalah bagian yang paling saya takutkan awalnya. Apalagi kalau bukan menyusur di air yang dalam. Saya ketagihan karena saya menyusurinya diantara bebatuan sempit. Rasanya seru saja, saya bingung menggambarkannya bagaimana. Dan saya baru menyadari latihan-latihan fisik sebelum kita berkegiatan alam itu memang penting, sebab ketika saya di goa saya merasa payah sekali. Padahal sebelumnya juga sudah ikut latihan fisik, tapi tetap merasa lemah. Mengangkat badan saja berat sekali rasanya.

Ketika keluar goa rasanya benar-benar luar biasa, apalagi ketika melihat matahari. Ya Rabb, bisa menghirup udara bebas itu nikmat rasanya. Menaklukkan rintangan dan sampai ditujuan itu melegakan ternyata. Berlelah-lelah sehabis berjuang itu luar biasa, apalagi bersama teman-teman.  Melawan ketakutan itu mengasyikkan rupanya.
Never Give Up pokonya :D

Thanks to teman-teman PALAPSI UGM