Senin, 08 September 2014

To find your self

Manusia adakalanya terburu-buru dengan sesuatu yang diinginkannya. Ketika tertarik dengan suatu hal, inginnya segera bisa, segera dapat, dan segera-segera lainnya. Dalam hal-hal tertentu itu mungkin layak diperjuangkan, layak untuk dikejar. Kalau ternyata kita mendapati apa yang kita perjuangkan tadi, janganlah lupa mungkin ini waktu yang tepat, momen yang pas, kondisi yang mendukung yang Allah swt. berikan sehingga kita mendapat izin dariNya untuk memiliki apa-apa yang diingini.
Di sisi lain, kadang kita sering memaksa atau ambisius untuk mendapatkan sesuatu yang kadang Allah swt. mungkin tidak ridho padanya. Mengharapkan sesuatu padahal belum tentu tepat bagi kita. Suatu waktu saya pernah berharap semoga saya segera mendapatkan hal yang saya ingini itu. Saya benar-benar berharap do’a saya dikabulkan oleh Allah swt. Saya berpikir itu adalah salah satu jalan keluar dari semua persoalan yang saya hadapi. Maka, saya sangat berharap permintaan saya terkabul dalam waktu dekat ini.
Saya lupa, apa-apa yang baik menurut kita belum tentu baik dimataNya. Saya gelisah, semua serba pro-kontra. Kali ini nurani dan pikiran tidak bisa berjalan seiringan. Antara obsesi, ambisi dan pasrah saling bergesekan satu sama lain. Semua berpendapat. Pada akhirnya saya lelah sendiri.
Waktu yang beberapa lama, perpindahan dari satu tempat ke tempat lain membuat saya kadang lupa dengan harapan yang kemarin saya menggebu-gebu memintanya. Katakan saya labil. Namun, sekembalinya dari perpindahan itu, saya baru menyadari. Bukan Allah swt. tidak mengetahuinya, betapa inginnya dirimu. Justru karena Allah swt. Maha Mengetahui segala sesuatunya, sekalipun tidak kau teriakan suara hatimu atau kau ucapkan hanya dengan suara lirih saja. Allah swt. Maha mendengar.

Semua kejadian yang saya lalui, yang saya singgahi, rupanya adalah rangkaian jawaban dari do’a dan harapan saya kemarin. Satu per satu jika saya cermati perlahan, Allah swt. tengah membukakan pikiran saya melalui kejadian disekitar untuk berpikir lebih, untuk mendalami lagi do’a-do’a yang saya panjatkan. Mungkin belum terkabulnya harapan saya bisa jadi karena saya juga belum siap semisal hal itu benar-benar terkabul. Antara hawa nafsu dan kesungguhan saya saja masih abu-abu. Jadi berbaiksangkalah pada Allah swt. karena dibalik itu semua ternyata Allah swt. lebih tahu dan lebih mengerti diri kita. Hampir dari diri kita pasti tahu itu, tapi kita seringkali lupa atau pula menafikan sebab rasanya yang paling mengerti diri ini ya hanya kita sendiri. Nyatanya, tidak selalu begitu. Selalu meminta yang terbaiklah dariNya. Semata-mata yang terbaik menurutNya pasti baik pula untuk kita. Terus sabar dan ikhlas, kawan J