Dalam detik yang terus berkutik
Ingatku mulai terasa sulit
Ada ragu yang kulihat
Tercetak dalam lembar tak berukir
Pernah satu masa kau nanti aku lahir
Tanpa terpikir perjumpaan kita kan di titik nadir
Rasanya belum sempat ku katakan padamu disaat terkahir
Bahwa aku ingin kau selalu hadir
Bagiku kala itu, tak kupahami takdir
Aku hanya mengerti pergimu sekelumit
Nyatanya, kau biarkan aku melawan sulit
Ruang waktu melaju tak kenal henti
Tiap langkah yang kuambil belum jadi kunci
Pelukanmu yang teringat di hati
Jadi bara untuk diri
Berjuang bangkit melawan sepi
Bapak, dulu pernah kupanggil
Sudah pergi jauh meninggi
Kini aku berdiri mantapkan kaki
Dengan segala liku terpatri di hidup ini
Kadang kala ringkuk tubuhku pilu
Tapi ajarmu hadapi tuk jangan takut
Meski aku tak lagi ada untukmu
Tumbuhlah penuh makna, ujarmu
Karena kamu adalah cahaya mata untukku
TTD
Bapak Gw
Minggu, 03 Oktober 2021
Karya saya yang tidak diupload Mas editor
Bajik Bijak
Keras karas lunak dihujani bukan dengan batu tuk saling bentur
Tapi air yang luruhkan dengan cara bijak
Perlahan
Pada batas dirimu terselip kebajikan
Tutup rapat, kedapkan kata
Hingga suaramu saja menggaung berulang-ulang
Menguatkan tapak untuk berjuang melangkah
Keretamu tertunda di suatu peron
Dan kau terdiam dengan tenang
Beriak-riak pikiranmu dalam gelombang bimbang
Tapi kau tahu hidup untuk hadap Tuhan
Maka, kau terus bertahan
Di ujung sana datang pagi dengan gembira
Melangkahi malam tanpa jumawa
Sebab ia sadar ini hanya giliran
Dan sore juga tak berkecil hati karena ia paham
Semua saling berkelindan
Ada sedikit retak, membuat celah
Tak kau tanggapi kemudian berongga
Resah nafasmu
Kelu jiwamu tertegun
Berandai-andai egomu
Terpelanting jauh ragamu
Lantas, kelana jalan keluar katamu