Selasa, 13 Oktober 2015

Percaya -Dalam Dekapan Ukhuwah- Part 2

Waktu tiga hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. 'Umar gelisah tak karuan. Dia mondar-mandir sementara Salman duduk khusyu' di dekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya di ujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tak datang memenuhi janji, maka dirinyalah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.

Waktu terus merambat. Belia itu masih belum muncul.

Kota Madinah mulai terasa kelabu. Para sahabat berkumpul mendatangi 'Umar dan Salman. Demi Allah, mereka keberatan jika Salman harus dibunuh sebagai badal. Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanannya untuk Islam begitu besar itu. Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia dihormati. Dia dicintai.

Satu demu satu dimulai dari Abu Darda', beberapa sahabat mengajukan diri sebagai pengganti Salman jika hukuman benar-benar dijatuhkan padanya. Tetapi Salman menolak. 'Umar juga menggeleng. Matahari semakin lingsir ke barat. Kekhawatiran 'Umar makin memuncak. Para sahabat makin kalut dan sedih. 

Hanya beberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tampak seseorang datang dengan berlari tertatih dan terseok. Dia pemuda itu, sang terpidana. "Maafkan aku," ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah,"Urusan dengan kaumku itu ternyata berbelit dan rumit sementara untaku tak sempat beristirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa kutinggalkan di tengah jalan. Aku harus berlari-lari untuk sampai kemari sehingga nyaris terlambat."

Semua yang melihat wajah dan penampilan pemuda ini merasakan satu sergapan iba. Semua yang mendengar penuturannya merasakan keharuan yang mendesak-desak. Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang pemuda harus berakhir hidupnya di hari itu.

"Pemuda yang jujur,"ujar 'Umar dengan mata berkaca-kaca,"Mengapa kau datang kembali padahal bagimu ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash?" 

"Sungguh jangan sampai orang mengatakan,"kata pemuda itu sambil tersenyum ikhlas,"Tak ada lagi orang yang tepat janji. Dan jangan sampai ada yang mengatakan, tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum muslimin.

"Dan kau Salman,"kata 'Umar bergetar,"Untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali? Bagaimana kau bisa mempercayainya?"

"Sungguh janan sampai orang bicara,"ujar Salman dengan wajah teguh,"Bahwa tak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai ada yang merasa, tak ada lagi rasa saling percaya di antara orang-orang Muslim."

"Allahu Akbar!"kata 'Umar,"Segala puji bagi Allah. Kalian telah membesarkan hati ummat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai pemuda, had untukmu harus kami tegakkan!"

Pemuda itu mengangguk passrah.

"Kami memutuskan..."kata kakak beradik penggugat tiba-tiba menyeruak,"Untuk memaafkannya." Mereka tersedu sedan."Kami melihatnya sebagai seorang yang berbudi dan tepat janji. Demi Allah, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal an beristighfar kepada Allah atas dosanya. Kami memaafkannya. Janganlah menghukumnya, wahai Amirul Mukminin."

"Alhamdulillah! Alhamdulillah!" ujar 'Umar. Pemuda terhukum itu sujud syukur. Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan asma Allah, yang kemudian bahkan diikuti oleh semua hadirin.

"Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?"tanya 'Umar pada kedua ahli waris korban.

"Agar jangan sampai ada yang mengatakan,"jawab mereka masih terharu,"Bahwa di kalangan kaum Muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang."

Subhanallah.. semoga kita bisa merenungkan dan mengambil hikmah dari kisah luar biasa di atas. Aamiin.. :)

Percaya -Dalam Dekapan Ukhuwah- Part 1

Kisah ini saya ketik ulang berdasarkan buku dari Ust. Salim A. Fillah. Alasannya sederhana, sebab bagian ini kisah mengisahkan pemuda-pemuda Islam yang hebat di masa Khalifah 'Umar ibn Al-Khaththab. Berikut kisahnya:

'Umar ibn Al-Khaththab sedang duduk di bawah sebatang kurma. surbannya dilepas, menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis di beberapa bagian. Di atas kerikil dia duduk, dengan cemeti imarat-nya tergeletak di samping tumpuan lengan. Di hadapannya para pemuka sahabat bertukar pikiran dan membahas berbagai persoalan. Ada anak muda yang tampak menonjol di situ. 'Abdullah Ibnu 'Abbas. Berulangkali 'Umar memintanya bicara. Jika perbedaan wujud, 'Umar hampir selalu bersetuju dengan Ibnu 'Abbas. Ada juga Salman Al-Farisi yang tekun menyimak. Ada juga Abu Dzar Al-Ghifari yang sesekali berapi-api.

Pembicaraan mereka segera terjeda. Dua orang pemuda berwajah mirip datang dengan mengapit pria belia lain yang mereka cekal lengannya. "Wahai Amirul Mukminin, "ujar salah satu berseru-seru, "Tegakkanlah hukum Allah atas pembunuh ayah kami ini!"

'Umar bangkit. "Takutlah kalian kepada Allah!" hardiknya, "Perkara apakah ini?"

"Benar, wahai Amirul Mukminin!"

"Engkau tidak menyangkal dan di wajahmu kulihat ada sesal!" ujar 'Umar menyelidik dengan teliti. "Ceritakanlah kejadiannya!"

"Aku datang dari negeri yang jauh," kata belia itu. "Begitu sampai di kota ini kutambatkan kudaku di sebuah pohon dekat kebun milik keluarga mereka. Kutinggalkan ia sejenak untuk mengurus suatu hajat tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai memakan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka."

"Saat aku kembali," lanjutnya sambil menghela nafas,"Kulihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga hewan malang itu tews mengenaskan. Melihat kejadian itu, aku dibakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telh membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada Allah karenanya."

'Umar tercenung.

"Wahai Amirul Mukmini," kata salah satu dari kedua kakak beradik itu,"Tegakkanlah hukum Allah. Kami meminta qishash atas orang ini. Jiwa dibayar dengan jiwa.

'Umar melihat pada belia tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar hawa amarah. Tapi sangat jelas bahwa wajahnya teduh. Akhlaknya santun. Gurat-gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. 'Umar iba dan merasa alngkah sia-sianya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi. "Bersediakah kalian," ucap 'Umar ke arah dua pemuda penuntu qishash,"Menerima pembayaran diyat dariku atas nama pemuda ini dan memaafkannya?"

Kedua pemuda itu saling pandang. "Demi Allah, hai Amirul Mukminin," jawab mereka,"Sungguh kami sangat mencintai ayah kami. Dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. Keberadaannya di tengah kami takkan terbayar dan terganti dengan diyat sebesar apapun. Lagipula kami bukanlah orang miskin yang menghajatkan harta. Hati kami baru akan tenteram jika had ditegakkan!"

'Umar terhenyak. "Bagaimana menurutmu?" tanyanya pada sang terdakwa. 

"Aku ridha hukum Allah ditegakkan atasku, wahai Amirul Mukminin," kata si belia dengan yakin. "Namun ada yang menghalaniku untuk sementara ini. Ada amanah dari kaumku atas beberapa benda maupun perkara yang harus aku sampaikan kembali pada mereka. Demikian juga keluargaku. Aku bekerja untuk menafkahi mereka. Hasil jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka sembari berpamitan memohon ridha dan keampunan ayah ibuku.

'Umar trenyuh. Tak ada jalan lain, hudud harus diteggakan. Tetapi pemuda itu juga memiliki amanah yang harus ditunaikan. "Jadi bagaimana?" tanya 'Umar.

"Jika engkau mengizinkanku, wahai Amirul Mukminin, aku minta waktu tiga hari untuk kembalike daerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Demi Allah, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu tegakkanlah had untukku tanpa ragu, wahai putra Al-Khaththab.

"Adakah orang yang bisa menjaminmu?"

"Aku tak memiliki seorang pun yang kukenal di kota ini hingga dia bisa kuminta menjadi pinjamanku. Aku tak memiliki seorang pun penjamin kecuali Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

"Tidak! Demi Allah, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu atau aku tak bisa mengizinkanmu pergi."

"Aku bersumpah dengan nama Allah yang amat keras 'adzabnya. Aku takkan menyalahi janjiku."

"Aku percaya. Tapi tetap harus ada menusia yang menjaminmu!"

"Aku tak punya!"

"Wahai Amirul Mukminin!" terdengar sebuah suara yang berat dan berwibawa menyela."Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah dia menunaikan amanahnya!" Inilah dia, Salman Al-Farisi yang tampil mengajukan diri.

"Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini?"

"Benar. Aku bersedia!"

"Kalian berdua kakak beradik yang mengajukan guguatan,"
panggil 'Umar, "Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman Al-Farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini? Adapun Salman demi Allah, aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat."

Kedua pemuda itu saling pandang,"Kami menerima," kata mereka nyaris serempak. 
 

Jumat, 28 Agustus 2015

Kadangkala, kamu memang tak butuh mencari seseorang di masa lalunya, sebab ia tak lagi hidup disana.
Barangkali, kamu pun tidak tahu betapa ia sedang tergopoh-gopoh memperbaiki hari esoknya.

-dariseorangkawan-
    

Kamis, 30 Juli 2015

Jangan sengaja pergi agar dicari.
Jangan sengaja lari biar dikejar.
Berjuang tak sebercanda itu.
- Sudjiwo Tedjo-

Senin, 06 April 2015

Pribadi Hebat

Tulisan ini saya kutip dari buku berjudul "Pribadi Hebat" karya Prof. Dr. Hamka mengenai kerpibadian pemberani yang harus dimiliki oleh setiap pribadi-pribadi hebat. Semoga bermanfaat...

Pribadi yang berani adalah yang sanggup menghadapi segala kesulitan atau bahaya dengan tidak kehilangan akal.

Selama keberanian masih ada dalam jiwa suatu bangsa, betapa besarnya kesulitan yang dihadapi, percayalah dia akan bangkit kembali.

Tanda berani adalah sikap tenang dan tidak gugup, sehebat apapun pihak yang dihadapi. Kesadaran kita atas harga dirilah yang menyebabkan kita berani.

Ketika kita bertemu dengan seseorang berpangkat tinggi, sebagai bangsa yang merdeka, kita akan bersikap hormat kepadanya seperti hormat kepada orang yang tidak berpangkat. Kita tidak akan menjilat-jilat dan tidak pula menyombong. Sebab arti pangkatnya adalah kewajiban yang dibebankan rakyat kepadanya. Jika dia salah, akan dihukum. Jika dia curang, akan dituntut. Hukuman yang paling berat adalah kebencian hati orang banyak.

Pendidikan olahraga ikut menanamkan keberanian. Bukan hanya berani menerima kemenangan, tetapi juga berani menerima kekalahan. Tidak cepat bergembira ketika mendapat untung dan tidak pula bersedih ketika datang malapetaka.

Orang yang berani berwirausaha harus berani mendapatkan kerugian. Orang yang berani memanjat harus berani menghadapi kejatuhan. Kejatuhan adalah hal yang biasa dalam hidup. Orang-orang akan menunggu, akan bangkit lagikah kita setelah jatuh atau terus rebah dan tidak bangkit lagi.

Keberanian bukan saja ketika menyerang, tetapi juga ketika bertahan. Keberanian bukan saja pada ketika mendaki, tetapi juga pada saat turun.


Senin, 30 Maret 2015

Kerendahan Hati

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan


Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air


Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

-Taufik Ismail-

Rabu, 25 Maret 2015

Sindoro 2



Ketua kelompok kami, merasa tidak tenang karena kami yang tidak tepat janji dan meninggalkan kedua orang kawan dibawah. Nyaris 4 jam mereka menunggu dengan ketabahan hati. Sebelum sampai ke puncak, saya yang paling lamban diantara dua orang kawan itu, sempat tidur-tiduran di atas sabana. Saya sudah tidak tahan lagi, ngilu di kaki semakin terasa. Badan yang lelah meski stamina masih tersisa,  membuat saya tertinggal jauh dan memilih untuk tidur sebentar diantara ilalang. “Ah, enak sekali”, batin saya. Matahari yang terasa menyilaukan tak saya pedulikan, saya sudah lelah rasanya. 

Di belakang saya masih ada dua orang yang ingin pula ke puncak, saya lantas bangun karena takut tidak ada siapa-siapa. Apalagi saya rasanya haus, dan kaki kiri saya ngilu. Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka saya lekas bangkit dan bersama mereka mendaki puncak. Dari kejauhan kedua kawan saya sudah memanggil-manggil saya untuk segera menyusul mereka. 

Pukul 13.30 WIB kami turun gunung, ketua kelompok kami memutuskan untuk turun lebih dulu karena ingin segera menyusul  dua kawan saya yang masih menunggu. Saya yang berjalan layaknya seorang nenek, sudah tidak kuat berjalan cepat-cepat. Pelan tapi pasti hujan mulai turun, Alhamdulillah tidak ada petir. Kawan saya yang satunya berjalan di belakang saya, rupanya dia tidak membawa mantel. Mau tidak mau akhirnya dia kehujanan. Saya lebih merasa tidak enak, sebab saya memperlambat geraknya yang berarti dia diguyur hujan lebih lama. 

Saya turun pelan-pelan sambil memegangi kaki kiri saya yang lama kelamaan tidak bisa ditekuk. Saya mengalami ngilu dibagian sendi lutut kiri. Hujan yang cukup deras membuat jalan turun semakin licin dan berlumpur. Dingin merambati kulit, perut saya juga sudah lapar kembali. Tapi saya tidak peduli, saya harus segera turun sebab dibawah masih mununggu dua kawan saya yang sedari tadi juga kehujanan. Ditambah lagi kawan saya satunya kehujanan basah kuyup. 

Ada satu titik rasanya, saya lelah, saya frustasi dan mendadak menjadi melankolis. Saya tidak tahu, berusaha saya tahan namun tidak bisa. Pada akhirnya, bersama hujan mengalirlah sudah. Saya malu, seperti orang bodoh saja. Setelahnya saya menertawakan diri sendiri karena hal itu. Saya tidak perlu mempertegas, pastilah mudah ditebak yang saya alami tadi. 

Saya berusaha berjalan sebisa mungkin, seandainya bisa gelinding saya mungkin memilih untuk menggelinding saja, sambil mengangkat kaki kiri saya. Niat saya diawal tidak mau menyusahkan orang justru saya yang membuat susah. Perjalanan turun terasa lama dan panjang sekali, sampai akhirnya saya bertemu dengan ketua kelompok saya yang sudah turun lebih dulu. Ternyata kedua kawan perempuan saya sudah turun karena kedinginan. Saya semakin tidak enak hati. 

Kami bertiga akhirnya lanjut untuk segera turun, saya memanggul carrier saya kembali. Ketua kelompok saya menawarkan diri untuk membawakannya, tapi urung saya terima. Saya tidak tega. Di tengah perjalanan, ketua kelompok saya meminta untuk menyusul kembali kedua kawan saya di pos 2. Kami bertukar carrier, ketua kelompok saya membawa carrier kawan saya yang berisi nesting, dan carrier ketua kelompok dibawakan oleh kawan saya itu. Tidak tanggung-tanggung akhirnya carrier saya dibawakannya juga. Maknyess  sekali, saya merepotkan orang lagi.

Saya terus saja berjalan, begitu juga dengan kawan saya dibelakang yang sabar menunggu saya berjalan. Dalam perjalanan turun, entah sudah berapa banyak jatuh dengan bermacam gaya maupun tergelincir yang saya alami. Singkat cerita saya sampai di pos 2, ketua kelompok saya yang baik hati ternyata sudah memasakkan makanan dan merebus air minum untuk kami. Subhanalloh..

Kedua kawan perempuan saya rupanya sudah jalan terlebih dulu sebab semakin kedinginan. Tinggalah kami bertiga di pos 2. Setelah mengganjal perut dan beristirahat sejenak, segera kami membereskan tenda dan peralatan. Sempat dibantu juga oleh sesama pendaki yang istirahat di pos 2 ini. Maghrib tiba, kami lanjutkan perjalanan. Alhamdulillah kami sampai di pos ojeg. 

Perlu dicatat, di Gunung Sindoro setelah pos 1 terdapat pos ojeg yang biasa mengantarkan pendaki yang ingin mendaki atau setelah mendaki. Saya tidak berkata apa-apa kecuali hanya beristighfar sebanyak-banyaknya ketika menaiki ojeg Sindoro ini. Ya Allah, bapak-bapak ojeg disini luar biasa hebat. Saya sendiri yang biasa mengendarai motor saja belum tentu berani kalau harus mengendarai hingga pos 1. Apalagi jalan licin, berlumpur sehabis hujan. Barang bawaan kami yang besar tak menciutkan nyali bapak-bapak ojeg demi sesuap nasi bagi keluarga mereka. Subhanalloh, lagi-lagi saya kagum dengan perjuangan mereka mencari rezeki yang halal. 

Sesampainya kami bertiga di basecamp, kawan perempuan saya yang satu kedinginan. Ternyata mereka turun juga dengan menggunakan jasa ojeg, dan dibayarkan oleh mas baik hati karena uang mereka sudah tidak bersisa lagi. Kurang lebih satu jam kemudian, mobil yang menjemput kami tiba. Kami berlima lantas bergerak menuju rumah salah satu kawan perempuan saya di Magelang. Masya Allah, keluarga mereka baik sekali. Kami disambut dengan hangat, dimasaki makan malam bahkan disediakan air hangat untuk mandi. Saya bahkan diambilkan semangkuk bubur kacang hijau oleh ibu kawan saya itu agar tidak kedinginan.

Dua kawan laki-laki saya memutuskan untuk langsung pulang ke Yogya, sementara saya dan seorang kawan perempuan saya memilih untuk menginap semalam di Magelang, karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Alhamdulillah kami semua kembali ke Yogya dengan selamat. Perjalanan yang luar biasa untuk kami semua, terutama saya pribadi. Kalau saja bukan karena pertolongan Allah swt. saya tidak tahu lagi bagaimana keadaan saya. Kawan-kawan saya yang luar biasa, dan keluarga kawan saya yang hangat membuat perjalanan ini tidak akan saya lupakan. 

Terima kasih Ya Allah atas hikmah perjalanan ini, perjalanan yang banyak memberi pelajaran tentang hidup dan perjuangan, tentang kehangatan dan kesetiakawanan. Tentang banyak hal yang terhampar di setiap langkah. Terima kasih Ya Rabb, terima kasih kawan-kawan. Semoga Allah swt. membalas kebaikan kalian semua.

Sindoro 1



Sindoro, sebuah gunung dengan ketinggian 3153 mdpl, terletak di daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Ini adalah pendakian kedua saya setelah Gunung Merbabu, dan di Gunung Sindoro pula puncak pertama saya berlabuh. Mengapa saya tulis cerita di gunung ini, sebab menurut saya pendakian kali ini benar-benar membuat saya terkesan. Saya adalah pendaki amatir..sebut saja newbie.
Disini saya akan bercerita mengenai proses perjalanan saya dan kawan-kawan. Mohon maaf, bagi kawan-kawan lain yang ingin melihat reportase jalur pendakian, sebab fokus tulisan saya bukan pada hal tersebut. 

Jujur, keinginan untuk mendaki gunung bukanlah sebuah cita-cita baru bagi saya. Sudah semenjak kecil saya mendambakan bisa mendaki gunung, kira-kira usia sekolah dasar. Keinginan ini karena terpengaruh kakak pertama saya yang memang hobi mendaki di masa mudanya. Jarak usia saya dengannya terpaut cukup jauh, sehingga ketika kakak saya masih muda belia, ibarat anak ayam saya masih piyik-piyik. Jadilah, kakak ketiga saya yang diajaknya mendaki. Saya hanya bisa meratap sedih sambil berguling-guling di lantai. Sampai saya duduk dibangku SMA, cita-cita mendaki bukan semakin memudar. Saya obsesi sekali, namun apalah mau dikata kondisi tidak memungkinkan. Hingga suatu hari dibangku perkuliahan, cita-cita itu lambat laun menjadi kenyataan :D

Persiapan yang saya lakukan mungkin memang belum maksimal, saya hanya berolahraga dua kali saja selama satu minggu, jogging, naik sepeda, dan olahraga kecil lainnya. Pada saat selesai berlari, saya memang merasa nyeri di kaki sebelah kiri. Kala itu saya pikir akibat sudah lama tidak berolahraga, sehingga saya tidak terlalu memusingkannya. Ternyata dibalik itu, rasa nyeri saya bisa jadi sebuah alarm untuk memperingati saya saat mendaki.
Awal pendakian, Alhamdulillah saya sehat-sehat saja, stamina ok meski agak radang sedikit, kondisi kaki juga tidak ada tanda-tanda nyeri. Saya dan keempat kawan mendaki di sore hari sehabis hujan turun, sebab waktu pendakian kami memang pada musim hujan. Ini pula pendakian pertama saya di musim hujan. Saya belum ada pengalaman sama sekali. 

Malam menjelang, kami tiba di pos 2. Kawan saya selaku ketua kelompok menyarankan untuk membuat tenda dan bermalam di sana. Tenda kami tidak sendiri, ada satu rombongan lain yang juga mendirikan tenda di belakang tenda kami. Berdasarkan cerita dari penjaga basecamp dan warga sekitar yang kami tanyai, di Gunung Sindoro rawan pencurian alat-alat pendaki  ditambah pos 3 yang rawan dengan babi hutannya. Agak tegang juga kala mendengar info tersebut. 

Kami berangkat dari basecamp Kledung, sebenarnya ada ojek yang bisa mengantarkan langsung hingga ke pos 1. Namun, kami memilih untuk berjalan kaki sembari melakukan pemanasan. Suasana berkabut dan langit mendung, sebab baru saja hujan datang menyinggahinya. Sampai di pos 2, kami bermalam dan melanjutkan pendakian menuju puncak esok hari sekitar pukul 08.00 WIB. Sarapan saya dan kawan-kawan merupakan sarapan mewah di gunung yang pernah saya makan. Semalam saja, kami menyantap bakso yang dibeli di bawah. Menu sarapan pagi itu adalah sandwich isi telur ceplok, keju, dan selada. Adapula nasi, nugget dan saos sambal. Lezat dan bergizi bukan?

Kenyang sarapan, kami lantas berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Barang-barang kami bawa kecuali tenda dan beberapa bahan makan. Harapan kami semoga tidak ada pencuri yang tega mengambil tenda pinjaman itu. Naik dan naik, track yang kami lalui kalau menurut saya pribadi cukup melelahkan. Banyak batu-batu dan menanjak, bonus turunan atau jalan datar hanya beberapa saja. Niat awal kami memang tidak sampai puncak, melihat waktu yang terbatas. Terus saja saya dan kawan-kawan mendaki dengan sesekali beristirahat. Sholat kami jamak, dzuhur dan ashar, maghrib dengan isya. 

Gunung Sindoro tidak memiliki mata air disepanjang tracknya, jadi pintar-pintarlah mengatur waktu minum Anda. Keluar dari hutan, sampailah kami di pos 3 yang ramai dengan tenda-tenda pendaki lain. Pos 3 memang pos paling ramai, dimana-mana terhampar tenda warna-warni. Sambil beristirahat sebentar, kami berfoto-foto ria dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. 

Selama perjalanan dari pos 3 menuju pos 4, saya mulai merasakan ngilu di kaki kiri saya. Saya pikir hal itu biasa saja, maka hanya saya olesi salep dan memakai koyo. Tidak disangka, koyo yang panas dan salep yang sudah saya olesi tidak berasa apa-apa sama sekali. Koyo yang saya pakai malah lepas entah kemana. Kira-kira sudah setengah perjalanan menuju pos 4, kedua kawan perempuan saya memilih untuk tinggal ditempat sebab kondisi yang tidak memungkinkan, sehingga hanya saya dan kedua kawan laki-laki yang melanjutkan perjalanan menuju puncak. Carrier kami titipkan pada kawan perempuan saya, untuk mempermudah pendakian. 

Rencana awal memang kami tidak berniat sampai puncak, nyatanya kami tetap sampai puncak juga (disitu saya kadang merasa egois). Saya merasa bersalah saja kepada kedua kawan saya yang menunggu dibawah. Janji kami memang jam 11 turun, tapi karena optimis sedikit lagi sampai dan motivasi dari pendaki lainnya saya jadi tergiur juga. Akhirnya naiklah kami hingga ke puncak Gunung Sindoro tepat jam 12. 30 WIB. Foto-foto sebentar dan sholat, lantas kami turun.

Dan disanalah cerita lainnya berlanjut….