Kamis, 01 Mei 2014

Miris sekali rasanya melihat generasi muda yang masih saja sulit mengamalkan nilai-nilai yang diyakini, sebagai contoh nilai kedisplinan. Saya menulis mengenai hal ini bukan tanpa sebab, saya percaya generasi muda masa kini tentunya memiliki kepedulian dan kedisiplinan yang tinggi terhadap lingkungan.

Tidak jarang organisasi-organisasi pecinta lingkungan dengan berbagai macam programnya melakukan aksi nyata dengan mengajak seluruh kalangan masyarakat  untuk mencintai lingkungan. Berbagai informasi secepat kilat mudah saja didapati. Bagaimana menyiasati sampah rumah tangga menjadi pupuk kompos, mengolah limbah plastik makanan menjadi barang kerajinan yang bernilai jual, dan segala aktifitas lainnya yang bertujuan untuk melindungi bumi kita.

Satu hal yang saya pegang, pastilah semua paham bahwa membuang sampah sembarangan itu berdampak buruk bagi lingkungan sekitar. Bisa berdampak banjir bila musim penghujan tiba, merusak estetika, membahayakan pengguna jalan, dsb. Sudah tentu slogan-slogan penyemangat pelestarian lingkungan tidak aneh didengar atau dilihat di jalan-jalan.

Lalu, apa arti itu semua jikalau hanya manis dibibir? Kita paham teori tapi tidak berani melakukan aksi nyata pada diri sendiri. Kita berbondong-bondong mengkampanyekan hari bumi, berteriak-teriak lindungi bumi kita, mengajak orang lain untuk menggunakan tas saat berbelanja, dan disisi lain ketika kita berdiri sendiri luntur sudah segala pemahaman serta upaya kampanye yang kita lakukan.

Malam tadi saya tidak sengaja melihat kejadian yang memiriskan hati. Nyatanya saya juga belum menjadi orang yang disiplin memilah mana sampah yang bisa di daur ulang dengan yang tidak bisa di daur ulang. Saya akui saya juga masih kurang. Tetapi kejadian tadi yang bisa saja masih banyak dilakukan oleh orang-orang sungguh membuat saya berpikir ulang. Mengapa orang yang saya kira paham mengenai masalah lingkungan justru bertindak sebaliknya pada saat ia berdiri sendiri.

Seorang anak muda membuang sampah di pinggir jalan. Saya yakin dia orang berpendidikan, tahu dampak yang disebabkan oleh perbuatannya, mungkin juga turut berceloteh untuk menjaga lingkungan. Di depan mata saya, dia buang sampah dengan ringannya. Pikir saya, apa susahnya menyimpan sampahmu sebentar sampai kamu menemukan tempat pembuangan sampah.

Kalau dipikir-pikir tidak semua salah dia, saya juga bisa kedapatan dosanya karena tidak menegurnya kala itu. Jumlah tempat sampah yang minim, bisa pula mendorong orang pada akhirnya untuk berbuat hal yang sebenarnya tidak dia inginkan, yaitu membuang sampah sembarangan. Lantas kalau sudah begini harus apa?

Bantulah negara kita untuk lebih baik. Sulit memang karena belum terbiasa tapi bukan berarti tidak bisa. Jika tidak ada tempat sampah tolonglah untuk menyimpan sampah kita sampai menemukan tempat sampah. Perilaku kita yang tidak disiplin itu dapat berakibat besar. Apalagi jika perbuatan yang terkesan sepele itu dilihat lantas dijadikan alasan oleh adik-adik kita meniru kebiasaan buruk tersebut. Tentu semakin sulit dibenahi, sebab bersifat turun temurun.


Meskipun malam ini saya menyaksikan satu peristiwa yang memiriskan, namun saya yakin diluar sana masih banyak orang-orang khususnya generasi muda yang cinta tanah airnya, cinta lingkungannya dengan berusaha berdisiplin diri tidak membuang sampah sembarangan. Ribuan bahkan jutaan kebaikan yang tidak tampak tapi dilakukan dengan penuh kesadaran. Ayo kita cintai bumi kita yang kian hari makin tak tentu nasibnya. Paru-parunya bolong perlahan, kulit mukanya kotor oleh rongsokan sampah, emosinya labil. Ketika sedih malah kepanasan, ketika cerah malah kedinginan. Panas dingin jadinya. Sungguh dia butuh dirawat dirumah sakit, dipulihkan kondisinya. Masih tegakah kita melihat bumi yang sudah tua renta ini meninggal tragis. Diserang oleh imunitasnya sendiri. Oleh kekebalan tubuh yang seharusnya menjadi kawan bukan lawan.