Miris sekali rasanya melihat
generasi muda yang masih saja sulit mengamalkan nilai-nilai yang diyakini,
sebagai contoh nilai kedisplinan. Saya menulis mengenai hal ini bukan tanpa
sebab, saya percaya generasi muda masa kini tentunya memiliki kepedulian dan
kedisiplinan yang tinggi terhadap lingkungan.
Tidak jarang
organisasi-organisasi pecinta lingkungan dengan berbagai macam programnya
melakukan aksi nyata dengan mengajak seluruh kalangan masyarakat untuk mencintai lingkungan. Berbagai
informasi secepat kilat mudah saja didapati. Bagaimana menyiasati sampah rumah
tangga menjadi pupuk kompos, mengolah limbah plastik makanan menjadi barang
kerajinan yang bernilai jual, dan segala aktifitas lainnya yang bertujuan untuk
melindungi bumi kita.
Satu hal yang saya pegang,
pastilah semua paham bahwa membuang sampah sembarangan itu berdampak buruk bagi
lingkungan sekitar. Bisa berdampak banjir bila musim penghujan tiba, merusak
estetika, membahayakan pengguna jalan, dsb. Sudah tentu slogan-slogan
penyemangat pelestarian lingkungan tidak aneh didengar atau dilihat di
jalan-jalan.
Lalu, apa arti itu semua jikalau
hanya manis dibibir? Kita paham teori tapi tidak berani melakukan aksi nyata
pada diri sendiri. Kita berbondong-bondong mengkampanyekan hari bumi, berteriak-teriak
lindungi bumi kita, mengajak orang lain untuk menggunakan tas saat berbelanja,
dan disisi lain ketika kita berdiri sendiri luntur sudah segala pemahaman serta
upaya kampanye yang kita lakukan.
Malam tadi saya tidak sengaja
melihat kejadian yang memiriskan hati. Nyatanya saya juga belum menjadi orang
yang disiplin memilah mana sampah yang bisa di daur ulang dengan yang tidak
bisa di daur ulang. Saya akui saya juga masih kurang. Tetapi kejadian tadi yang
bisa saja masih banyak dilakukan oleh orang-orang sungguh membuat saya berpikir
ulang. Mengapa orang yang saya kira paham mengenai masalah lingkungan justru
bertindak sebaliknya pada saat ia berdiri sendiri.
Seorang anak muda membuang sampah
di pinggir jalan. Saya yakin dia orang berpendidikan, tahu dampak yang
disebabkan oleh perbuatannya, mungkin juga turut berceloteh untuk menjaga
lingkungan. Di depan mata saya, dia buang sampah dengan ringannya. Pikir saya,
apa susahnya menyimpan sampahmu sebentar sampai kamu menemukan tempat
pembuangan sampah.
Kalau dipikir-pikir tidak semua
salah dia, saya juga bisa kedapatan dosanya karena tidak menegurnya kala itu.
Jumlah tempat sampah yang minim, bisa pula mendorong orang pada akhirnya untuk
berbuat hal yang sebenarnya tidak dia inginkan, yaitu membuang sampah
sembarangan. Lantas kalau sudah begini harus apa?
Bantulah negara kita untuk lebih
baik. Sulit memang karena belum terbiasa tapi bukan berarti tidak bisa. Jika
tidak ada tempat sampah tolonglah untuk menyimpan sampah kita sampai menemukan
tempat sampah. Perilaku kita yang tidak disiplin itu dapat berakibat besar.
Apalagi jika perbuatan yang terkesan sepele itu dilihat lantas dijadikan alasan
oleh adik-adik kita meniru kebiasaan buruk tersebut. Tentu semakin sulit
dibenahi, sebab bersifat turun temurun.
Meskipun malam ini saya
menyaksikan satu peristiwa yang memiriskan, namun saya yakin diluar sana masih
banyak orang-orang khususnya generasi muda yang cinta tanah airnya, cinta
lingkungannya dengan berusaha berdisiplin diri tidak membuang sampah
sembarangan. Ribuan bahkan jutaan kebaikan yang tidak tampak tapi dilakukan
dengan penuh kesadaran. Ayo kita cintai bumi kita yang kian hari makin tak
tentu nasibnya. Paru-parunya bolong perlahan, kulit mukanya kotor oleh
rongsokan sampah, emosinya labil. Ketika sedih malah kepanasan, ketika cerah
malah kedinginan. Panas dingin jadinya. Sungguh dia butuh dirawat dirumah
sakit, dipulihkan kondisinya. Masih tegakah kita melihat bumi yang sudah tua
renta ini meninggal tragis. Diserang oleh imunitasnya sendiri. Oleh kekebalan
tubuh yang seharusnya menjadi kawan bukan lawan.