Kamis, 04 Desember 2014

Le Petit Prince



Ini adalah sebuah percakapan yang terjadi antara seekor rubah dan pangeran kecil di planet bumi:

Pangeran kecil melihat bunga-bunga mawar.
"Kalian sama sekali tidak sama dengan mawarku, kalian belum apa-apa. Kalian belum dijinakkan siapa pun, dan kalian belum menjinakkan siapa pun. Kalian seperti rubahku dulu. Hanya seekor rubah yang serupa dengan seratus ribu rubah lain. Tapi sudah kujadikan temanku, maka dia satu-satunya di dunia."

Bunga-bunga mawar merasa malu.
"Kalian cantik tapi hampa. Orang tidak akan mau mati bagi kalian. Bunga mawarku, bagi orang sembarangan, tentu mirip dengan kalian. Tapi ia setangkai lebih penting dari kalian semua, karena dialah yang telah kusirami. Karena dialah yang kuletakkan di bawah sungkup. Karena dialah yang kulindungi dengan penyekat. Karena dialah yang kubunuh ulat-ulatnya (kecuali dua-tiga untuk kupu-kupu). Karena dialah yang kudengarkan keluhnya, bualannya, atau malah kadang-kadang kebisuannya. Karena dialah mawarku."

Lalu ia kembali ke rubah.
"Selamat tinggal," katanya.
"Selamat jalan," Inilah rahasiaku. Sangat sederhana: hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata. Waktu yang kamu buang untuk mawarmu, itulah yang membuatnya begitu penting. Manusia telah melupakan kenyataan ini, tetapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu menjadi bertanggung jawab untuk selama-lamanya atas siapa yang telah kamu jinakkan. Kamu bertanggung jawab atas mawarmu..."

-Antoine De Saint-Exupery-

Selasa, 25 November 2014

On The Rainy Day

Alhamdulillah, hari ini saya baru saja bermain hujan. Main hujan tentunya berbeda dengan ke-hujan-an. Waktu itu saya meminjam sebuah karpet kepada teman kos saya untuk acara kemping. Sudah lama saya berkeinginan untuk mencucinya, tapi enggan melakukannya. Tiba-tiba siang ini hujan turun cukup deras sehingga saya mengecek jemuran di lantai atas. Saya kemudian berpikir lagi, wah mumpung hujan masih deras saya terpikirkan untuk sekalian saja mencuci karpet yang saya pinjam itu.

Saya bergegas mengambil jas hujan dan membawa serta sabun colek juga sikat. Saya naik ke atas, gluduk sekali dua kali bergema. Hati kecil saya sebenarnya juga sedikit takut, kalau-kalau kesambar. Bismillah sajalah, saya lantas meyikiati kapet tersebut sambil tetap waspada dengan gluduk di atas sana. Akhirnya karpet sudah selesai saya cuci, saya malas untuk turun. Mirip orang gila mungkin, saya berdiri dan diam saja sambil senyum-senyum. Aih, sudah lama sekali saya tidak bermain hujan. Dulu sekali ketika saya masih SD, saya pernah minta izin orangtua waktu akan bermain hujan. Hahaha, saya takut dimarahi. Tapi ternyata dugaan saya salah, Ibu saya mengiyakan tanpa rasa khawatir.

Bagaikan ketiban durian, senangnya bukan main. Maka di bawah hujan deras, di depan rumah saya, di jalan gang rumah saya, saya lari-lari, melompat-lompat seperti katak yang bersenandung kala musim hujan tiba. Yiiiiihhaaaaaaaa...... sampai kira-kira satu jam kemudian saya sudahi dan segera masuk kamar mandi. Ibu saya cuma geleng-geleng saja melihat saya. Tapi jujur saja, rasanya sangat senang kala itu.

Hari ini saya melakukan hal yang sama, bedanya saya tidak lompat-lompat, saya tidak lari-lari, saya pakai jas hujan dan sudah tidak perlu meminta izin lagi. Saya hanya diam, berdiri. 30 menit saya berhujan-hujan ria, terkadang saya pikir berbicara tentang hujan adalah mainstream. Tetap tidak peduli, saya senang menceritakannya. Hujan itu sendu, dingin, berangin, sepi karena sebagian orang menepi, hangat karena hujan mengumpulkan kebersamaan. Meskipun saya juga pernah merasa tidak nyaman dengan hujan. 

Tanaman di lantai jemuran mendadak seolah-olah bergerak riang sebab hujan turun setelah beberapa hari kemarin cuaca cerah dan panas. Lidah buaya di depan kamar kos saya mulai tumbuh subur. Hijau menyejukkan pandangan. Apalagi kalau satu dua tetes air menempel pada ujung-ujung dahannya. Ya Allah terima kasih atas hujan yang begitu menyenangkan. Bahagia betul saya ini.

Jumat, 14 November 2014

Bahwa Skripsi sejatinya bukanlah mengenai deadline dan janji bimbingan dengan dosen
Bukan tentang laporan beratus-ratus halaman dan istilah-istilah keren
Namun mengenai tanggung jawab dan kerja keras
Bahwa ilmu pengetahuan bukanlah perkara main-main
Ia adalah kerja-kerja iman, bahwa kebaikan haruslah dibagikan
Bahkan dengan yang dalam waktu dan ruang tak dipertemukan
Skripsi adalah salah satu pembuktian iman

(IRFAN HALIM, Psychology 2011)

Selasa, 11 November 2014

WONDERLAND


Curiosity and imagination will be great when they’re combined

It'll take you to some new place such a wonderland

So you could imagine yourself as a seagull

Who have a clear point of view about freedom from the highest sky


It's a wonderland, place where you can find happiness
It's a wonderland, place where you can be free


Curiosity and imagination will be great when they’re combined

It'll take you to some new place such a wonderland

So you could imagine yourself as a rabbit

Running forward so fast, never looking back to the past



Aurette And The Polska Seeking Carnival


Rabu, 22 Oktober 2014

Kalau Hidup Hanya Sekedar Hidup, Kera di Rimba Juga Hidup
Kalau Kerja Hanya Sekedar Kerja, Kerbau di Sawah Juga Bekerja 
- Buya Hamka - 

Senin, 08 September 2014

To find your self

Manusia adakalanya terburu-buru dengan sesuatu yang diinginkannya. Ketika tertarik dengan suatu hal, inginnya segera bisa, segera dapat, dan segera-segera lainnya. Dalam hal-hal tertentu itu mungkin layak diperjuangkan, layak untuk dikejar. Kalau ternyata kita mendapati apa yang kita perjuangkan tadi, janganlah lupa mungkin ini waktu yang tepat, momen yang pas, kondisi yang mendukung yang Allah swt. berikan sehingga kita mendapat izin dariNya untuk memiliki apa-apa yang diingini.
Di sisi lain, kadang kita sering memaksa atau ambisius untuk mendapatkan sesuatu yang kadang Allah swt. mungkin tidak ridho padanya. Mengharapkan sesuatu padahal belum tentu tepat bagi kita. Suatu waktu saya pernah berharap semoga saya segera mendapatkan hal yang saya ingini itu. Saya benar-benar berharap do’a saya dikabulkan oleh Allah swt. Saya berpikir itu adalah salah satu jalan keluar dari semua persoalan yang saya hadapi. Maka, saya sangat berharap permintaan saya terkabul dalam waktu dekat ini.
Saya lupa, apa-apa yang baik menurut kita belum tentu baik dimataNya. Saya gelisah, semua serba pro-kontra. Kali ini nurani dan pikiran tidak bisa berjalan seiringan. Antara obsesi, ambisi dan pasrah saling bergesekan satu sama lain. Semua berpendapat. Pada akhirnya saya lelah sendiri.
Waktu yang beberapa lama, perpindahan dari satu tempat ke tempat lain membuat saya kadang lupa dengan harapan yang kemarin saya menggebu-gebu memintanya. Katakan saya labil. Namun, sekembalinya dari perpindahan itu, saya baru menyadari. Bukan Allah swt. tidak mengetahuinya, betapa inginnya dirimu. Justru karena Allah swt. Maha Mengetahui segala sesuatunya, sekalipun tidak kau teriakan suara hatimu atau kau ucapkan hanya dengan suara lirih saja. Allah swt. Maha mendengar.

Semua kejadian yang saya lalui, yang saya singgahi, rupanya adalah rangkaian jawaban dari do’a dan harapan saya kemarin. Satu per satu jika saya cermati perlahan, Allah swt. tengah membukakan pikiran saya melalui kejadian disekitar untuk berpikir lebih, untuk mendalami lagi do’a-do’a yang saya panjatkan. Mungkin belum terkabulnya harapan saya bisa jadi karena saya juga belum siap semisal hal itu benar-benar terkabul. Antara hawa nafsu dan kesungguhan saya saja masih abu-abu. Jadi berbaiksangkalah pada Allah swt. karena dibalik itu semua ternyata Allah swt. lebih tahu dan lebih mengerti diri kita. Hampir dari diri kita pasti tahu itu, tapi kita seringkali lupa atau pula menafikan sebab rasanya yang paling mengerti diri ini ya hanya kita sendiri. Nyatanya, tidak selalu begitu. Selalu meminta yang terbaiklah dariNya. Semata-mata yang terbaik menurutNya pasti baik pula untuk kita. Terus sabar dan ikhlas, kawan J

Selasa, 24 Juni 2014

Song Gilap

Salah satu kegiatan alam yang menurut saya menakutkan adalah caving. Mungkin karena pengaruh dari beberapa film yang pernah saya tonton juga, sehingga membuat anggapan bahwa goa itu menakutkan. Suasana gelap, pengap, lembab, berbatu-batu menambah liar pikiran saya. Ketakutan semisal bertemu mahluk goa dan penunggu-penunggunya campur aduk di kepala.

Kebetulan di kampus saya ada tawaran untuk fun caving. Saya memang suka bercengkrama dengan alam tapi kalau caving, saya berasa sedikit gimana gitu. Nah, yang kala itu ditawarkan memang hanya fun caving, maka jadilah saya ikut kegiatan tersebut. Saya memang takut dan seumur hidup belum pernah caving. Jangankan caving, naik gunung saja saya belum pernah.

Lokasi saya caving lumayan jauh di daerah Ponjong, Gunung Kidul. Saya terperangah melihat mulut goa yang besarnya Subhanallah, gede banget. Goa yang saya masuki berjenis horizontal. Peralatan yang saya kenakan berupa pelampung, helm, headlamp dan boots. Jalan menuju goa berupa tangga, yang entah berapa banyak jumlahnya. Selebihnya ialah gundukan batu dan tanah merah.

Saya khawatir terpeleset disana, karena medannya cukup licin dan berlumpur. Saya turun pelan-pelan sambil terus baca-baca doa. Turunannya sedikit terjal, tapi dasarnya saya penakut makanya saya paling lama sampainya. Di dalam goa terdapat aliran air yang cukup bervariasi kedalamannya, pertama kali sampai jalur air yang harus dilewati berketinggian sedada orang dewasa.

Saya teringat trauma waktu KKN dulu, yang hampir tenggelam dan menenggelamkan orang lain. Lantas, paniklah saya dan saya jadi heboh sendiri. Saya takut kejadian KKN terulang lagi, Naudzubillah. Alhamdulillah saya mengapung, saya bertekad kali ini saya tidak boleh menyusahkan orang lain. Diantara peserta yang lain, saya merasa sayalah yang paling lelet dan heboh sendiri. Saya begitu sebenarnya untuk mengalihkan rasa takut saya masuk goa.

Jalan sepanjang goa benar-benar gelap, lembab, licin, dan berbatu tajam. Airnya berlumpur dan beberapa kali boot  saya menempel sehingga memperberat langkah. Di spot-spot tertentu saya istirahat sambil main-main air yang mengalir. Wah, airnya benar-benar bikin segar. Saya senang duduk-duduk di atas batu yang dialiri air. Kapan lagi saya bisa begitu.

Selama perjalanan sepanjang 2KM lebih terasa seperti di wahana istana boneka DUFAN. Hanya saja tidak pakai kereta, tapi kita sendiri yang berjalan-jalan. Hewan yang saya temukan berupa kepiting dan sejenis jangkrik. Alhamdulillah saya tidak bertemu dengan the most scary animal “ULAR…”.

Saya tidak sampai ujung menyusuri goa tersebut karena waktu yang mepet. Perjalanan susur goa ini berakhir di tempat yang disebut dengan air terjun. Air terjun ini seperti sebuah lubang kecil dan terdapat aliran air yang deras dari sisi atas. Untuk masuk ke air terjun harus dengan memanjat dinding goa. Aih, segar nian saya duduk sambil disiram air dari stalaktit. Saya cuci muka biar tambah segar.

Sebelumnya, saya dan teman-teman mapala kampus melakukan upacara. Wah, saya berasa jadi mapala, hehehe. Semua headlamp dimatikan, dan tidak ada apa-apa yang bisa dilihat, hanya kegelapan.  Saya berasa kecil, saya membayangkan setiap orang kelak pasti berjalan sendiri dengan amalannya masing-masing yang menjadi penerangnya. Bisa redup kaya lilin atau terang kaya lampu LED. Saya dan teman-teman mapala duduk melingkar dan kemudian menyanyikan himne mapala kampus saya. Keren…

Perjalanan pulang itu memang rasanya selalu lebih singkat daripada berangkatnya. Bisa jadi karena saya juga sudah beradaptasi dengan lingkungan dan mulai menikmatinya. Di dalam goa banyak sekali ornamen seperti stalaktit, stalakmit, gorden dan gordam. Saya jadi tahu apa itu gordam dan ornamen-ornamen goa lainnya. Ternyata goa itu menarik, tidak juga seseram yang saya kira. Kesan menakutkan memang tidak dipungkiri, tapi kalau kesana ramai-ramai bersama teman-teman rasanya menyenangkan.

Bagian favorit saya adalah bagian yang paling saya takutkan awalnya. Apalagi kalau bukan menyusur di air yang dalam. Saya ketagihan karena saya menyusurinya diantara bebatuan sempit. Rasanya seru saja, saya bingung menggambarkannya bagaimana. Dan saya baru menyadari latihan-latihan fisik sebelum kita berkegiatan alam itu memang penting, sebab ketika saya di goa saya merasa payah sekali. Padahal sebelumnya juga sudah ikut latihan fisik, tapi tetap merasa lemah. Mengangkat badan saja berat sekali rasanya.

Ketika keluar goa rasanya benar-benar luar biasa, apalagi ketika melihat matahari. Ya Rabb, bisa menghirup udara bebas itu nikmat rasanya. Menaklukkan rintangan dan sampai ditujuan itu melegakan ternyata. Berlelah-lelah sehabis berjuang itu luar biasa, apalagi bersama teman-teman.  Melawan ketakutan itu mengasyikkan rupanya.
Never Give Up pokonya :D

Thanks to teman-teman PALAPSI UGM

Kamis, 01 Mei 2014

Miris sekali rasanya melihat generasi muda yang masih saja sulit mengamalkan nilai-nilai yang diyakini, sebagai contoh nilai kedisplinan. Saya menulis mengenai hal ini bukan tanpa sebab, saya percaya generasi muda masa kini tentunya memiliki kepedulian dan kedisiplinan yang tinggi terhadap lingkungan.

Tidak jarang organisasi-organisasi pecinta lingkungan dengan berbagai macam programnya melakukan aksi nyata dengan mengajak seluruh kalangan masyarakat  untuk mencintai lingkungan. Berbagai informasi secepat kilat mudah saja didapati. Bagaimana menyiasati sampah rumah tangga menjadi pupuk kompos, mengolah limbah plastik makanan menjadi barang kerajinan yang bernilai jual, dan segala aktifitas lainnya yang bertujuan untuk melindungi bumi kita.

Satu hal yang saya pegang, pastilah semua paham bahwa membuang sampah sembarangan itu berdampak buruk bagi lingkungan sekitar. Bisa berdampak banjir bila musim penghujan tiba, merusak estetika, membahayakan pengguna jalan, dsb. Sudah tentu slogan-slogan penyemangat pelestarian lingkungan tidak aneh didengar atau dilihat di jalan-jalan.

Lalu, apa arti itu semua jikalau hanya manis dibibir? Kita paham teori tapi tidak berani melakukan aksi nyata pada diri sendiri. Kita berbondong-bondong mengkampanyekan hari bumi, berteriak-teriak lindungi bumi kita, mengajak orang lain untuk menggunakan tas saat berbelanja, dan disisi lain ketika kita berdiri sendiri luntur sudah segala pemahaman serta upaya kampanye yang kita lakukan.

Malam tadi saya tidak sengaja melihat kejadian yang memiriskan hati. Nyatanya saya juga belum menjadi orang yang disiplin memilah mana sampah yang bisa di daur ulang dengan yang tidak bisa di daur ulang. Saya akui saya juga masih kurang. Tetapi kejadian tadi yang bisa saja masih banyak dilakukan oleh orang-orang sungguh membuat saya berpikir ulang. Mengapa orang yang saya kira paham mengenai masalah lingkungan justru bertindak sebaliknya pada saat ia berdiri sendiri.

Seorang anak muda membuang sampah di pinggir jalan. Saya yakin dia orang berpendidikan, tahu dampak yang disebabkan oleh perbuatannya, mungkin juga turut berceloteh untuk menjaga lingkungan. Di depan mata saya, dia buang sampah dengan ringannya. Pikir saya, apa susahnya menyimpan sampahmu sebentar sampai kamu menemukan tempat pembuangan sampah.

Kalau dipikir-pikir tidak semua salah dia, saya juga bisa kedapatan dosanya karena tidak menegurnya kala itu. Jumlah tempat sampah yang minim, bisa pula mendorong orang pada akhirnya untuk berbuat hal yang sebenarnya tidak dia inginkan, yaitu membuang sampah sembarangan. Lantas kalau sudah begini harus apa?

Bantulah negara kita untuk lebih baik. Sulit memang karena belum terbiasa tapi bukan berarti tidak bisa. Jika tidak ada tempat sampah tolonglah untuk menyimpan sampah kita sampai menemukan tempat sampah. Perilaku kita yang tidak disiplin itu dapat berakibat besar. Apalagi jika perbuatan yang terkesan sepele itu dilihat lantas dijadikan alasan oleh adik-adik kita meniru kebiasaan buruk tersebut. Tentu semakin sulit dibenahi, sebab bersifat turun temurun.


Meskipun malam ini saya menyaksikan satu peristiwa yang memiriskan, namun saya yakin diluar sana masih banyak orang-orang khususnya generasi muda yang cinta tanah airnya, cinta lingkungannya dengan berusaha berdisiplin diri tidak membuang sampah sembarangan. Ribuan bahkan jutaan kebaikan yang tidak tampak tapi dilakukan dengan penuh kesadaran. Ayo kita cintai bumi kita yang kian hari makin tak tentu nasibnya. Paru-parunya bolong perlahan, kulit mukanya kotor oleh rongsokan sampah, emosinya labil. Ketika sedih malah kepanasan, ketika cerah malah kedinginan. Panas dingin jadinya. Sungguh dia butuh dirawat dirumah sakit, dipulihkan kondisinya. Masih tegakah kita melihat bumi yang sudah tua renta ini meninggal tragis. Diserang oleh imunitasnya sendiri. Oleh kekebalan tubuh yang seharusnya menjadi kawan bukan lawan.

Rabu, 09 April 2014

Muter-muter saja

Satu hari kemarin itu ceritanya saya jalan-jalan ke kota Solo. Ini bukanlah sebuah kesengajaan yang terencana melainkan, ketidaksengajaan karena saya tidak tahan lagi berlama-lama di kos hari itu. Saya suntuk bukan main. Maka, saya bertekad mbuh piye ceritane, saya mesti ngabur sehari dari kosan, sendiri.

Jadilah saya pergi ke kota Solo menggunakan bus antar kota. Saya memang sudah beberapa kali ke kota tersebut. Tapi, biasanya saya pergi berdua atau ada teman sesampainya disana. Kali ini saya seorang diri saja. Naik bus ke Solo juga baru kali pertama, sebelumnya saya biasa menggunakan motor atau kereta. Niat awal memang naik kereta, karena terlanjur ketinggalan saya bablas saja ke arah Terminal.

Sepanjang jalan menuju terminal, jalan ramai dengan orang kampanye yang bikin saya emosi (gimana nggak emosi kalau caranya kampanye cuma bikin polusi suara sambil petantang-petenteng kaya jagoan). Bus penuh sesak kala itu sebab saya berpergian di waktu weekend. Bus melaju hingga tiba di lampu merah ringroad timur. Kernet bus berteriak "Solo, Solo yang ke Solo!", sontak saya turun saja daripada harus ke terminal yang masih agak jauh. Jujur, ketika saya turun dari bus, sebenarnya saya nggak tahu mesti naik bus yang mana. Saya sok-sok-an ngerti saja, dalam hati berkata cari saja bus yang ke arah Solo. 

Selang berapa menit menunggu, bus jurusan Solo datang. Mas-mas penjual sandal yang sama-sama menunggu pun memberitahu saya "Yok Mbak ke Solo ini". Saya langsung bergegas naik bus tersebut. Karena ini pengalaman saya naik bus ke Solo sendirian, patokan saya pokoknya berhenti di akhir tujuan kalau nggak terminal. Saya anteng saja selama perjalanan sambil sesekali mendengar pengamen yang silih  berganti datang. Saya perhatikan baik-baik jalur yang dilewati bus, jaga-jaga takut saya nyasar. 

Jalur yang dilewati tidak jauh berbeda dengan jalur yang saya lewati ketika naik motor. Bedanya hanya ketika melewati stasiun Klaten. Bus umum melewati belakang stasiun. Saya sempat tertidur sebentar sampai kira-kira memasuki daerah Surakarta. Saya memilih kota Solo sebab sudah lama ada sesuatu yang ingin saya cari disana, namun belum sempat mencarinya. Kebetulan saya suntuk, saya langsung saja kepikiran untuk segera pergi ke Solo sambil mencari sesuatu itu.

Dua tempat yang diindikasi terdapat sesuatu. Untungnya, dua tempat tersebut masih dalam satu kawasan sehingga tidak butuh waktu yang lama untuk berpindah tempat. Kunci sukses melakukan perjalanan ialah bertanya jika tidak tahu. Bus yang saya naiki melaju melewati jalan yang ingin saya tuju, akhirnya saya beranikan diri bertanya pada seorang Bapak yang duduk disebelah saya. Beliau menjelaskan secara singkat dimana saya harus turun. 

Saya turun disebuah pom bensin. Saya sholat sebentar dan membeli beberapa pengganjal perut. Setelah tanya sana-sini, saya naik becak menuju tempat yang saya incar. Singkat cerita saya belum berhasil bertemu dengan sesuatu yang saya cari. Maka, beranjaklah dengan segera saya ke tempat yang lain. Hampir saya salah jurusan ketika akan menaiki BTS. 

Waktu yang tersedia untuk mencari lumayan singkat karena saya mengejar kereta untuk pulang ke Yogya. Saya nggak mau melewatkan pemandangan cantik bukit-bukit itu. Tempat kedua yang saya sambangi mempertemukan saya dengan sesuatu yang sudah saya incar jauh-jauh hari. Akhirnya, kita bertemu disini. Tanpa panjang lebar, saya langsung saja membawa ia pergi. Menumpang becak lagi hingga sampai ke stasiun Solo Balapan. Alhamdulillah saya nggak ketinggalan kereta, masih bisa sholat ashar dan istirahat sebentar.

Saya sampai di kosan kembali saat maghrib menjelang, saya turun di stasiun Maguwo untuk menghindari macet bila harus turun di Malioboro. Dari Maguwo saya transit di halte terminal Condongcatur. Saat saya kembali, daerah kosan mati listrik. Tapi tak apalah, yang penting saya sudah bertemu dengan sesuatu yang saya incar begitu lama. Setidaknya mengurangi kesuntukan saya yang benar-benar sudah memuncak. Seandainya saya nggak ngabur dari kosan pagi itu, saya nggak tahu lagi akan melakukan apa. 

Selasa, 01 April 2014

"Orang-orang baik negeri ini tumbang bukan karena banyaknya orang jahat. Melainkan orang baik lainnya memilih diam dan mendiamkan"
-Anies Baswedan- 

Rabu, 19 Maret 2014

bilang kami fanatik
bilang kami tak nasionalis
bilang kami eksklusif 
hakimi saja kami dengan serapah dari prasangkamu

toh kami biasa dihakimi
dicurigai
dianggap berbeda dengan yang lain
benar kami memang berbeda

lihat saja kami dengan pandangan sebelah 
sebab separuhnya lagi sudah tertutupi oleh persepsimu sendiri
tatap kami menggunakan sorot matamu yang kelabu

atas nama bangsa Indonesia
apa benar?
apa sudah berkaca dirimu benar-benar Indonesia?
atau hanya meng-Indonesia-Indonesia-kan saja dirimu





Minggu, 16 Maret 2014

                               P. Wediombo       P. Gusung Penyu       P. Jongwok



Tiap pantai punya kekhasannya masing-masing, tapi rasa tetap satu: INDONESIA

Rabu, 26 Februari 2014

Kota-kota, Kecil-kecil, Sederhana saja

Tiap kota pasti memiliki keindahannya masing-masing dan cara untuk menikmatinya. Siang ini, ada yang ingin saya hirup baunya. Aroma khasnya, lembar demi lembar. Maka berkendaralah saya dengan menumpang bus kota yang mengantarkan saya pada usaha pencarian ini. Perjalanan singkat yang melewati beberapa perhentian rupanya mengajari saya bagaimana caranya menikmati suasana kota.

Kota yang saya tinggali memang bukan kota sebesar ibukota, tapi tidak juga kota yang terpencil sekali. Saya memang menyukai kota-kota kecil nan sederhana yang tiap ruangnya menghadirkan rasa nyaman. Perjalanan saya bukan bertujuan khusus untuk mengelilingi kota, perjalanan saya punya tujuan lain. Bak pepatah, sambil menyelam minum air, maka sambil melakukan pencarian saya menikmati suasana kota sederhana ini. 

Disini saya masih bisa melihat si Mbah- si Mbah menumpang bus kota dengan membawa bakul yang beratnya tidak umum untuk para lansia. Justru disini letak uniknya, kernet bus dan sopir mengerti benar siapa penumpang yang mereka angkut. Si Mbah- si Mbah tentu lebih diperhatikan, mungkin ini memang tidak bisa digeneralisasikan, saya melihat sopir dan kernet bus di kota ini cukup terbilang ramah dan sopan. Berbeda dengan kota saya dibesarkan, sradak sruduk sing penting setorane akeh. Ora mikir sing diangkut cah nom opo si mbah-si mbah. Hajar Bleh..

Saya tidak bermaksud membandingkan karena saya tahu tiap tempat, tiap kota selalu menghadirkan kekhasannya. Kota saya dibesarkan pun punya sisi lain untuk dinikmati, hanya saja saya belum tahu bagaimana cara menikmatinya. Saya benar-benar menikmati apabila hujan datang dan meneduhkannya. Kota yang saya tinggali ini memang tidak sebegitu lengkap aksesnya seperti kota saya dibesarkan. Suasana alam dan masyarakatnya yang membuat saya nyaman disini. 

Ada kota lain yang tak jauh dari kota yang saya tinggali sekarang, menyimpan keindahannya yang tersembunyi. Kota kecil, lebih kecil dari kota tempat saya bermukim saat ini, yang saya pikir tidak ada yang menarik didalamnya. Dugaan saya salah, setelah saya telusuri kota tersebut menyembunyikan (saya saja yang kurang paham sebenarnya) keindahan alam yang saya kagumi.

Saya yakin ada banyak kota-kota kecil di Indonesia, yang sama indahnya, yang belum saya jamahi. Kota-kota kecil sederhana..

Lain Waktu

Mencarimu ternyata tak semudah yang kukira
Sudut demi sudut, lapak demi lapak, kota demi kota, modern hingga tradisional
Tak sedetik pun kita berjumpa

Aku sebenarnya tahu 
Dimana dirimu berada
Masih tersisa begitu banyak

Namun, perjuanganku mencarimu
Kadang harus kutunda
Tak bisa aku egois
Akan ada hal lain yang harus kukejar
Sama denganmu

Lain waktu
Mungkin Tuhan akan mempertemukan kita
Entah kapan dan dimana


AKU INGIN

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono)

Selasa, 25 Februari 2014

Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami.
Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan.
Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan.
Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya.
Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.
Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat.
Karena itulah kami naik gunung.

(Soe Hok Gie)

Jumat, 21 Februari 2014

Namaku "Si Baik Hati"

Hallo, kenalkan namaku Si baik hati
Aku bersekolah di sekolah kecil ini tapi penuh warna
Teman-temanku sedikit, tidak sama dengan sekolah lainnya yang kudengar satu kelasnya saja bisa 40 orang
Wow, besar sekali ya
Aku Si baik hati
Mungkin jarang terlihat tersenyum 
Aku berjingkat-jingkat 
Memainkan rambut dikepalaku
Aku Si baik hati
Meski temanku tidak banyak, aku merasa senang
Setidaknya aku tidak sendiri
Pelajaran di sekolah menyenangkan
Hanya saja masih sulit untukku mengikutinya dengan baik
Tapi aku bahagia, aku tidak marah
Guru-guruku begitu menyayangiku
Waktu aku disana, aku lihat ada orang asing
Asing sekali..
Aku belum pernah bertemu dengannya
Dia seharian melihatku belajar dengan teman-teman dan guruku
Dia tidak sendiri
Dia juga membawa serta seorang teman
Yah, perjumpaan kita sebentar sekali
Aku cium tangannya saja
Dia sepertinya terharu
Semoga kita bisa ketemu lagi di lain kesempatan kakak :)


Mana Peduliku?

Dunia begitu luas kawan
Bahkan seandainya seumur hidupku kulalui hanya untuk menjelajahi setiap sudutnya, takkan mampu aku mengitarinya
Begitu mungkin perkataan seorang pesimistis
Nah, cobalah kau beri tahu aku letak perbedaan pesimistis dengan realistis
Mereka berbeda tapi terlihat mirip dalam pandanganku
Kawan, bagaimana kabarmu?
Aku dengar dunia semakin hina saja kelakuannya
Apakah keadaanmu baik-baik saja?
Belum lama aku mendapat kabar, bahwa keadaanmu kini semakin parah
Tak ada lagi tempat aman untukmu yang seharusnya menjadi hak semua umat manusia
Bagaimana bisa seorang manusia hidup tanpa rasa aman?
Akan tumbuh jadi apa kita?
Ditambah, kawan lain kita baru saja terkena dampak kehinaan mahluk-mahluk tak berakal
Di negeriku kami di pereteli satu demi satu, dihancurkan perlahan-lahan, sangat halus
Aku? bisaku berteriak dan kebingungan
Realitanya tak mampu aku membantu kalian 
Atau aku hanyalah segumpal kepesimistisan?
Maaf..lagi-lagi kata itu yang terlontar dari ujung bibir ini
Ngilu hatiku karena yang kutahu kita adalah saudara, kawan
Aku dan kalian satu tubuh
Tapi mana peduliku? 
Mampuku menyalahkan realita dan bertindak pesimistis
Aku tak mampu berbuat lebih, disaat kalian begitu membutuhkan
Maaf, kawan..
Mampuku hanya mengirimkan do'a kecil untuk kalian
Semoga Allah mengirimkan malaikat-malaikatnya untuk menjaga kalian





Selasa, 18 Februari 2014

Melihat Indonesia I

Ada banyak cara kita mengapresiasikan Indonesia atau kalau kata Efek Rumah Kaca "Menjadi Indonesia". Belakangan ini memang banyak kaum muda yang tidak lagi malu untuk katakan saya anak Indonesia meskipun kebobrokan negara juga masih tetap ada. Tapi, rasa cinta tanah air dan mau merubah Indonesia menjadi lebih baik itulah yang harusnya diacungi jempol.

Intermezzo sedikit, saya bersyukur banget diterima di universitas "Ndeso". Bahkan, filosofi jaket almamternya saja sangat-sangat kerakyatan sekali, belum pernah saya lihat ada universitas lain yang almamaternya memiliki warna yang sama dengan universitas saya ini. Ada satu lagi yang saya sukai dari universitas saya yaitu kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bagi saya, KKN merupakan salah satu cara untuk melihat Indonesia lebih dekat.

Nah, kali ini yang mau saya ceritakan adalah pengalaman saya KKN kemarin di daerah Teluk Alulu, Maratua, Berau, Kalimantan Timur. Seumur hidup saya, baru kali pertama ini saya dengar ada pulau bernama Maratua di daerah Kaltim. Saya yang awam memang tidak begitu tahu mengenai keberadaan pulau Maratua. Pengetahuan saya mengenai P. Maratua ini sebatas cerita dari teman kos saya yang sebelumnya sudah lebih dulu KKN disana. Tapi, kala itu saya hanya fokus pada ceritanya bukan pada tempat dan lokasinya. Saya tidak ngeh sama sekali.

Ternyata setelah seorang teman saya yang lain mengajak untuk bergabung saya baru tahu ada pulau bernama Maratua dan juga tempat KKN teman kos saya itu. Saya memang belum bergabung atau menggabungkan diri dengan tim KKN manapun dikala teman-teman saya sudah banyak bergabung di grup KKN 2010. Saya sendiri bingung mau kemana, yang pasti saya bertekad untuk KKN di luar jawa. Niat saya hanya satu, saya mau lihat Indonesia itu seperti apa? 

Katanya negara kepulauan, beragam suku, budaya dan agama. Makanya saya mau lihat dia dari dekat. Saat saya tahu pulau tersebut berada di Kalimantan, saya semangat bukan main. Saya tidak munafik, ada perasaan cemas juga kala itu. Saya belum pernah menjejakkan kaki di Kalimantan, apalagi mendengar cerita-cerita dari orang-orang mengenai kehidupan disana, semakin menambah kecemasan saja. Tapi, rasa penasaran itu terkadang bisa mengalahkan rasa takut itu sendiri. Jadi, Bismillah saya tuliskan besar-besar pada daftar cita-cita saya: KKN Maratua 2013.

Singkat cerita, melalui oprec dan wawancara yang ketat karena memang peminatnya lumayan banyak, Alhamdulillah diterimalah saya di tim KKN Maratua 2013. Masih ada yang mengganjal sedikit, sebab jumlah SKS saya waktu itu masih ambigu, sudah sampai 100 atau belum dan tidak boleh ada nilai E. Gawat, saya memang agak bermasalah dengan yang namanya SKS atau nilai matkul. Rasanya deg-degan menunggu positif atau negatif saya bisa KKN tahun ini. Alhamdulillah, SKS saya mencukupi untuk berangkat dan nilai matkul saya tidak jadi penghambat. Fiuh, leganya.. Maratua, aku datang!!!

Izin dari orang tua sudah saya kantongi, setelah sebelumnya sempat berargumentasi sedikit pada kakak saya yang kedua. SKS dan nilai, cukup. Dana, Alhamdulillah cukup. Setelah rapat dan melakukan pertemuan berkali-kali, tibalah waktunya saya meraih cita-cita saya, KKN di luar P. Jawa..

Kalau tidak salah, kami berangkat dari kampus pada tanggal 5 Juli di pagi buta. Perjalanan saya ke Maratua ditempuh melalui jalur darat, laut dan udara. Total waktu perjalanan sekitar 21 jam. Sebelum kami tiba di P. Maratua, kami sempat menginap di kota Berau sebentar. 

Perjalanan laut yang menyenangkan, hahaha bahagianya saya. Bersyukur banget, ketika saya menyadari saya tengah berlayar di laut diantara pulau-pulau nusantara. Pengalaman saya bertambah lagi, Indonesia aku datang, Maratua tunggu aku!


  

Ketika hasrat terhalang syariat
Cinta tak mampu melekat karena takut maksiat
Shalatlah berbilang rakaat atau puasalah selagi dapat
(Ust. Felix Siauw)