Kamis, 10 Januari 2019

Di Balik Tawa : Luka masa kecil


Judul tulisan saya kali ini berasal dari judul lagu seorang laki-laki cerdas dan tangguh asal Bogor. Saya menulis ini sambil mendengarkan kisah hidup laki-laki tersebut. Sebuah kisah yang membuat saya terdiam dan melihat kenyataan hidup bahwa sungguh pribadi hebat terkadang lahir dari kehidupan yang keras bahkan saat kita melihat satu warna dengan mata telanjang nyatanya warna yang sesungguhnya bersebrangan dengan apa yang tampak di pandangan mata ini. Ironi..tapi saya belajar banyak dari dirinya dari kisah hidupnya.

Kisah hidup yang penuh dengan ironi seringkali saya temukan pada cerita orang-orang yang hidup di ranah hiburan atau mereka yang selalu terlihat bahagia. Berusaha sekuat tenaga untuk menghibur orang lain sekalipun jauh di dalam dirinya keguncangan besar sedang terjadi. Pernah saya berkata pada adik tingkat saya yang setiap hari selalu tertawa, sampai saya bingung kapan dia sedihnya, “Eh, kalau kamu lagi sedih bilang ya” dan dia cuma menjawab, “Nggak kok Mbak, aku nggak sedih”  sambil melanjutkan tawanya. Tidak dipungkiri itu bagian dari resiko pekerjaan di ranah hiburan sebenarnya. Tapi kalau dipikir kembali, di zaman sekarang pekerjaan-pekerjaan dalam ranah lain pun terkadang sering menyita waktu, tenaga dan pikiran si pekerja itu sendiri. Sementara para pekerja juga manusia biasa yang butuh dimanusiakan.

Kembali ke topik awal, dua vokalis band favorit saya misalnya, Dollores O’riordan dan Chester Bennington ditemukan meninggal bunuh diri. Saya sempat syok, saya tidak tahu pasti alasan apa yang melatar belakangi kejadian itu. Saya sempat berpikir, mungkinkah karena ada kejadian masa lalu yang terlalu menyakiti hingga menimbulkan perasaan sendiri ditengah keramaian membuat mereka depresi atau ada gangguan berlebih dari kami para penggemar? Jawabnya tidak tahu. Sepengetahuan saya memang mereka memiliki cerita kelam di masa lalu yang bagi saya butuh kekuatan besar untuk bisa sembuh dari luka itu, luka yang mungkin tidak pernah bisa dilupakan, tapi apa benar karena luka masa lalu? Yang jelas masa kecil menjadi masa dimana apa yang melekat pada diri ini terbentuk.

Cerita-cerita di atas menjadi prolog dari poin penting yang ingin saya bahas disini. Luka masa kecil yang membekas sampai mati. Di novel-novel karangan Torey Hayden, seorang novelis sekaligus praktisi di bidang anak-anak berkebutuhan khusus, banyak kisah tentang anak didiknya yang mengalami luka masa kecil. Dan yang membuat saya semakin tercengang adalah bahwa luka masa kecil mereka membentuk diri mereka menjadi seseorang yang tak terjamah. Beberapa melampiaskan dengan hal-hal ekstrem tapi sebagian lagi melampiaskan dengan menutup diri.

Ya Allah, sembari saya membaca emosi dalam diri saya bercampur aduk. Dan kisah yang diangkat benar-benar kisah nyata. Ingin rasanya memberi pelukan hangat, mengusap dengan lembut orang-orang dengan luka masa kecil. Luka yang sengaja atau tidak sudah tergores di dalam diri mereka. Saya hanya bisa tertegun dan berdoa semoga hidup mereka kedepan jauh lebih baik. Semoga luka yang membekas itu bisa tersembuhkan seiring berjalannya waktu. Mungkin alasan ini juga yang menguatkan saya untuk menjadi guru sekolah dasar. Saya tidak ingin anak murid saya mengalami luka masa kecil yang terus dia bawa karena lukanya tidak tersembuhkan di masa itu. Anak-anak sejatinya adalah kertas putih yang tak berwarna dan hitam kelamnya warna pilihan mereka bisa jadi karena ada sumbangsih dari manusia dewasa yang menorehkan warna kelam dalam dirinya, sengaja atau tidak.

Buat saya sendiri dan mungkin orang-orang diluar sana, mari kita berdamai dengan hidup ini. Berani memaafkan diri sendiri, mencintai diri ini dan terus optimis dalam menjalani hidup. Ada hal-hal yang tidak bisa kita jawab hanya dengan mengandalkan akal, tapi jawablah dengan kepasrahan padaNya karena semua yang terjadi terkadang tak kita pahami mengapa? Kita hanya butuh yakin denganNya.