Senin, 30 Maret 2015

Kerendahan Hati

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan


Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air


Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

-Taufik Ismail-

Rabu, 25 Maret 2015

Sindoro 2



Ketua kelompok kami, merasa tidak tenang karena kami yang tidak tepat janji dan meninggalkan kedua orang kawan dibawah. Nyaris 4 jam mereka menunggu dengan ketabahan hati. Sebelum sampai ke puncak, saya yang paling lamban diantara dua orang kawan itu, sempat tidur-tiduran di atas sabana. Saya sudah tidak tahan lagi, ngilu di kaki semakin terasa. Badan yang lelah meski stamina masih tersisa,  membuat saya tertinggal jauh dan memilih untuk tidur sebentar diantara ilalang. “Ah, enak sekali”, batin saya. Matahari yang terasa menyilaukan tak saya pedulikan, saya sudah lelah rasanya. 

Di belakang saya masih ada dua orang yang ingin pula ke puncak, saya lantas bangun karena takut tidak ada siapa-siapa. Apalagi saya rasanya haus, dan kaki kiri saya ngilu. Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka saya lekas bangkit dan bersama mereka mendaki puncak. Dari kejauhan kedua kawan saya sudah memanggil-manggil saya untuk segera menyusul mereka. 

Pukul 13.30 WIB kami turun gunung, ketua kelompok kami memutuskan untuk turun lebih dulu karena ingin segera menyusul  dua kawan saya yang masih menunggu. Saya yang berjalan layaknya seorang nenek, sudah tidak kuat berjalan cepat-cepat. Pelan tapi pasti hujan mulai turun, Alhamdulillah tidak ada petir. Kawan saya yang satunya berjalan di belakang saya, rupanya dia tidak membawa mantel. Mau tidak mau akhirnya dia kehujanan. Saya lebih merasa tidak enak, sebab saya memperlambat geraknya yang berarti dia diguyur hujan lebih lama. 

Saya turun pelan-pelan sambil memegangi kaki kiri saya yang lama kelamaan tidak bisa ditekuk. Saya mengalami ngilu dibagian sendi lutut kiri. Hujan yang cukup deras membuat jalan turun semakin licin dan berlumpur. Dingin merambati kulit, perut saya juga sudah lapar kembali. Tapi saya tidak peduli, saya harus segera turun sebab dibawah masih mununggu dua kawan saya yang sedari tadi juga kehujanan. Ditambah lagi kawan saya satunya kehujanan basah kuyup. 

Ada satu titik rasanya, saya lelah, saya frustasi dan mendadak menjadi melankolis. Saya tidak tahu, berusaha saya tahan namun tidak bisa. Pada akhirnya, bersama hujan mengalirlah sudah. Saya malu, seperti orang bodoh saja. Setelahnya saya menertawakan diri sendiri karena hal itu. Saya tidak perlu mempertegas, pastilah mudah ditebak yang saya alami tadi. 

Saya berusaha berjalan sebisa mungkin, seandainya bisa gelinding saya mungkin memilih untuk menggelinding saja, sambil mengangkat kaki kiri saya. Niat saya diawal tidak mau menyusahkan orang justru saya yang membuat susah. Perjalanan turun terasa lama dan panjang sekali, sampai akhirnya saya bertemu dengan ketua kelompok saya yang sudah turun lebih dulu. Ternyata kedua kawan perempuan saya sudah turun karena kedinginan. Saya semakin tidak enak hati. 

Kami bertiga akhirnya lanjut untuk segera turun, saya memanggul carrier saya kembali. Ketua kelompok saya menawarkan diri untuk membawakannya, tapi urung saya terima. Saya tidak tega. Di tengah perjalanan, ketua kelompok saya meminta untuk menyusul kembali kedua kawan saya di pos 2. Kami bertukar carrier, ketua kelompok saya membawa carrier kawan saya yang berisi nesting, dan carrier ketua kelompok dibawakan oleh kawan saya itu. Tidak tanggung-tanggung akhirnya carrier saya dibawakannya juga. Maknyess  sekali, saya merepotkan orang lagi.

Saya terus saja berjalan, begitu juga dengan kawan saya dibelakang yang sabar menunggu saya berjalan. Dalam perjalanan turun, entah sudah berapa banyak jatuh dengan bermacam gaya maupun tergelincir yang saya alami. Singkat cerita saya sampai di pos 2, ketua kelompok saya yang baik hati ternyata sudah memasakkan makanan dan merebus air minum untuk kami. Subhanalloh..

Kedua kawan perempuan saya rupanya sudah jalan terlebih dulu sebab semakin kedinginan. Tinggalah kami bertiga di pos 2. Setelah mengganjal perut dan beristirahat sejenak, segera kami membereskan tenda dan peralatan. Sempat dibantu juga oleh sesama pendaki yang istirahat di pos 2 ini. Maghrib tiba, kami lanjutkan perjalanan. Alhamdulillah kami sampai di pos ojeg. 

Perlu dicatat, di Gunung Sindoro setelah pos 1 terdapat pos ojeg yang biasa mengantarkan pendaki yang ingin mendaki atau setelah mendaki. Saya tidak berkata apa-apa kecuali hanya beristighfar sebanyak-banyaknya ketika menaiki ojeg Sindoro ini. Ya Allah, bapak-bapak ojeg disini luar biasa hebat. Saya sendiri yang biasa mengendarai motor saja belum tentu berani kalau harus mengendarai hingga pos 1. Apalagi jalan licin, berlumpur sehabis hujan. Barang bawaan kami yang besar tak menciutkan nyali bapak-bapak ojeg demi sesuap nasi bagi keluarga mereka. Subhanalloh, lagi-lagi saya kagum dengan perjuangan mereka mencari rezeki yang halal. 

Sesampainya kami bertiga di basecamp, kawan perempuan saya yang satu kedinginan. Ternyata mereka turun juga dengan menggunakan jasa ojeg, dan dibayarkan oleh mas baik hati karena uang mereka sudah tidak bersisa lagi. Kurang lebih satu jam kemudian, mobil yang menjemput kami tiba. Kami berlima lantas bergerak menuju rumah salah satu kawan perempuan saya di Magelang. Masya Allah, keluarga mereka baik sekali. Kami disambut dengan hangat, dimasaki makan malam bahkan disediakan air hangat untuk mandi. Saya bahkan diambilkan semangkuk bubur kacang hijau oleh ibu kawan saya itu agar tidak kedinginan.

Dua kawan laki-laki saya memutuskan untuk langsung pulang ke Yogya, sementara saya dan seorang kawan perempuan saya memilih untuk menginap semalam di Magelang, karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Alhamdulillah kami semua kembali ke Yogya dengan selamat. Perjalanan yang luar biasa untuk kami semua, terutama saya pribadi. Kalau saja bukan karena pertolongan Allah swt. saya tidak tahu lagi bagaimana keadaan saya. Kawan-kawan saya yang luar biasa, dan keluarga kawan saya yang hangat membuat perjalanan ini tidak akan saya lupakan. 

Terima kasih Ya Allah atas hikmah perjalanan ini, perjalanan yang banyak memberi pelajaran tentang hidup dan perjuangan, tentang kehangatan dan kesetiakawanan. Tentang banyak hal yang terhampar di setiap langkah. Terima kasih Ya Rabb, terima kasih kawan-kawan. Semoga Allah swt. membalas kebaikan kalian semua.

Sindoro 1



Sindoro, sebuah gunung dengan ketinggian 3153 mdpl, terletak di daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Ini adalah pendakian kedua saya setelah Gunung Merbabu, dan di Gunung Sindoro pula puncak pertama saya berlabuh. Mengapa saya tulis cerita di gunung ini, sebab menurut saya pendakian kali ini benar-benar membuat saya terkesan. Saya adalah pendaki amatir..sebut saja newbie.
Disini saya akan bercerita mengenai proses perjalanan saya dan kawan-kawan. Mohon maaf, bagi kawan-kawan lain yang ingin melihat reportase jalur pendakian, sebab fokus tulisan saya bukan pada hal tersebut. 

Jujur, keinginan untuk mendaki gunung bukanlah sebuah cita-cita baru bagi saya. Sudah semenjak kecil saya mendambakan bisa mendaki gunung, kira-kira usia sekolah dasar. Keinginan ini karena terpengaruh kakak pertama saya yang memang hobi mendaki di masa mudanya. Jarak usia saya dengannya terpaut cukup jauh, sehingga ketika kakak saya masih muda belia, ibarat anak ayam saya masih piyik-piyik. Jadilah, kakak ketiga saya yang diajaknya mendaki. Saya hanya bisa meratap sedih sambil berguling-guling di lantai. Sampai saya duduk dibangku SMA, cita-cita mendaki bukan semakin memudar. Saya obsesi sekali, namun apalah mau dikata kondisi tidak memungkinkan. Hingga suatu hari dibangku perkuliahan, cita-cita itu lambat laun menjadi kenyataan :D

Persiapan yang saya lakukan mungkin memang belum maksimal, saya hanya berolahraga dua kali saja selama satu minggu, jogging, naik sepeda, dan olahraga kecil lainnya. Pada saat selesai berlari, saya memang merasa nyeri di kaki sebelah kiri. Kala itu saya pikir akibat sudah lama tidak berolahraga, sehingga saya tidak terlalu memusingkannya. Ternyata dibalik itu, rasa nyeri saya bisa jadi sebuah alarm untuk memperingati saya saat mendaki.
Awal pendakian, Alhamdulillah saya sehat-sehat saja, stamina ok meski agak radang sedikit, kondisi kaki juga tidak ada tanda-tanda nyeri. Saya dan keempat kawan mendaki di sore hari sehabis hujan turun, sebab waktu pendakian kami memang pada musim hujan. Ini pula pendakian pertama saya di musim hujan. Saya belum ada pengalaman sama sekali. 

Malam menjelang, kami tiba di pos 2. Kawan saya selaku ketua kelompok menyarankan untuk membuat tenda dan bermalam di sana. Tenda kami tidak sendiri, ada satu rombongan lain yang juga mendirikan tenda di belakang tenda kami. Berdasarkan cerita dari penjaga basecamp dan warga sekitar yang kami tanyai, di Gunung Sindoro rawan pencurian alat-alat pendaki  ditambah pos 3 yang rawan dengan babi hutannya. Agak tegang juga kala mendengar info tersebut. 

Kami berangkat dari basecamp Kledung, sebenarnya ada ojek yang bisa mengantarkan langsung hingga ke pos 1. Namun, kami memilih untuk berjalan kaki sembari melakukan pemanasan. Suasana berkabut dan langit mendung, sebab baru saja hujan datang menyinggahinya. Sampai di pos 2, kami bermalam dan melanjutkan pendakian menuju puncak esok hari sekitar pukul 08.00 WIB. Sarapan saya dan kawan-kawan merupakan sarapan mewah di gunung yang pernah saya makan. Semalam saja, kami menyantap bakso yang dibeli di bawah. Menu sarapan pagi itu adalah sandwich isi telur ceplok, keju, dan selada. Adapula nasi, nugget dan saos sambal. Lezat dan bergizi bukan?

Kenyang sarapan, kami lantas berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Barang-barang kami bawa kecuali tenda dan beberapa bahan makan. Harapan kami semoga tidak ada pencuri yang tega mengambil tenda pinjaman itu. Naik dan naik, track yang kami lalui kalau menurut saya pribadi cukup melelahkan. Banyak batu-batu dan menanjak, bonus turunan atau jalan datar hanya beberapa saja. Niat awal kami memang tidak sampai puncak, melihat waktu yang terbatas. Terus saja saya dan kawan-kawan mendaki dengan sesekali beristirahat. Sholat kami jamak, dzuhur dan ashar, maghrib dengan isya. 

Gunung Sindoro tidak memiliki mata air disepanjang tracknya, jadi pintar-pintarlah mengatur waktu minum Anda. Keluar dari hutan, sampailah kami di pos 3 yang ramai dengan tenda-tenda pendaki lain. Pos 3 memang pos paling ramai, dimana-mana terhampar tenda warna-warni. Sambil beristirahat sebentar, kami berfoto-foto ria dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. 

Selama perjalanan dari pos 3 menuju pos 4, saya mulai merasakan ngilu di kaki kiri saya. Saya pikir hal itu biasa saja, maka hanya saya olesi salep dan memakai koyo. Tidak disangka, koyo yang panas dan salep yang sudah saya olesi tidak berasa apa-apa sama sekali. Koyo yang saya pakai malah lepas entah kemana. Kira-kira sudah setengah perjalanan menuju pos 4, kedua kawan perempuan saya memilih untuk tinggal ditempat sebab kondisi yang tidak memungkinkan, sehingga hanya saya dan kedua kawan laki-laki yang melanjutkan perjalanan menuju puncak. Carrier kami titipkan pada kawan perempuan saya, untuk mempermudah pendakian. 

Rencana awal memang kami tidak berniat sampai puncak, nyatanya kami tetap sampai puncak juga (disitu saya kadang merasa egois). Saya merasa bersalah saja kepada kedua kawan saya yang menunggu dibawah. Janji kami memang jam 11 turun, tapi karena optimis sedikit lagi sampai dan motivasi dari pendaki lainnya saya jadi tergiur juga. Akhirnya naiklah kami hingga ke puncak Gunung Sindoro tepat jam 12. 30 WIB. Foto-foto sebentar dan sholat, lantas kami turun.

Dan disanalah cerita lainnya berlanjut….