Ketua kelompok kami, merasa tidak tenang karena kami yang
tidak tepat janji dan meninggalkan kedua orang kawan dibawah. Nyaris 4 jam
mereka menunggu dengan ketabahan hati. Sebelum sampai ke puncak, saya yang
paling lamban diantara dua orang kawan itu, sempat tidur-tiduran di atas
sabana. Saya sudah tidak tahan lagi, ngilu di kaki semakin terasa. Badan yang lelah
meski stamina masih tersisa, membuat
saya tertinggal jauh dan memilih untuk tidur sebentar diantara ilalang. “Ah,
enak sekali”, batin saya. Matahari yang terasa menyilaukan tak saya pedulikan,
saya sudah lelah rasanya.
Di belakang saya masih ada dua orang yang ingin pula ke
puncak, saya lantas bangun karena takut tidak ada siapa-siapa. Apalagi saya
rasanya haus, dan kaki kiri saya ngilu. Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan
maka saya lekas bangkit dan bersama mereka mendaki puncak. Dari kejauhan kedua
kawan saya sudah memanggil-manggil saya untuk segera menyusul mereka.
Pukul 13.30 WIB kami turun gunung, ketua kelompok kami
memutuskan untuk turun lebih dulu karena ingin segera menyusul dua kawan saya yang masih menunggu. Saya yang
berjalan layaknya seorang nenek, sudah tidak kuat berjalan cepat-cepat. Pelan
tapi pasti hujan mulai turun, Alhamdulillah tidak ada petir. Kawan saya yang
satunya berjalan di belakang saya, rupanya dia tidak membawa mantel. Mau tidak
mau akhirnya dia kehujanan. Saya lebih merasa tidak enak, sebab saya
memperlambat geraknya yang berarti dia diguyur hujan lebih lama.
Saya turun pelan-pelan sambil memegangi kaki kiri saya yang
lama kelamaan tidak bisa ditekuk. Saya mengalami ngilu dibagian sendi lutut
kiri. Hujan yang cukup deras membuat jalan turun semakin licin dan berlumpur.
Dingin merambati kulit, perut saya juga sudah lapar kembali. Tapi saya tidak
peduli, saya harus segera turun sebab dibawah masih mununggu dua kawan saya
yang sedari tadi juga kehujanan. Ditambah lagi kawan saya satunya kehujanan
basah kuyup.
Ada satu titik rasanya, saya lelah, saya frustasi dan
mendadak menjadi melankolis. Saya tidak tahu, berusaha saya tahan namun tidak
bisa. Pada akhirnya, bersama hujan mengalirlah sudah. Saya malu, seperti orang
bodoh saja. Setelahnya saya menertawakan diri sendiri karena hal itu. Saya
tidak perlu mempertegas, pastilah mudah ditebak yang saya alami tadi.
Saya berusaha berjalan sebisa mungkin, seandainya bisa
gelinding saya mungkin memilih untuk menggelinding saja, sambil mengangkat kaki
kiri saya. Niat saya diawal tidak mau menyusahkan orang justru saya yang
membuat susah. Perjalanan turun terasa lama dan panjang sekali, sampai akhirnya
saya bertemu dengan ketua kelompok saya yang sudah turun lebih dulu. Ternyata
kedua kawan perempuan saya sudah turun karena kedinginan. Saya semakin tidak
enak hati.
Kami bertiga akhirnya lanjut untuk segera turun, saya
memanggul carrier saya kembali. Ketua
kelompok saya menawarkan diri untuk membawakannya, tapi urung saya terima. Saya
tidak tega. Di tengah perjalanan, ketua kelompok saya meminta untuk menyusul
kembali kedua kawan saya di pos 2. Kami bertukar carrier, ketua kelompok saya membawa carrier kawan saya yang berisi nesting,
dan carrier ketua kelompok dibawakan
oleh kawan saya itu. Tidak tanggung-tanggung akhirnya carrier saya dibawakannya juga. Maknyess sekali, saya merepotkan orang lagi.
Saya terus saja berjalan, begitu juga dengan kawan saya
dibelakang yang sabar menunggu saya berjalan. Dalam perjalanan turun, entah
sudah berapa banyak jatuh dengan bermacam gaya maupun tergelincir yang saya
alami. Singkat cerita saya sampai di pos 2, ketua kelompok saya yang baik hati
ternyata sudah memasakkan makanan dan merebus air minum untuk kami.
Subhanalloh..
Kedua kawan perempuan saya rupanya sudah jalan terlebih dulu
sebab semakin kedinginan. Tinggalah kami bertiga di pos 2. Setelah mengganjal
perut dan beristirahat sejenak, segera kami membereskan tenda dan peralatan.
Sempat dibantu juga oleh sesama pendaki yang istirahat di pos 2 ini. Maghrib
tiba, kami lanjutkan perjalanan. Alhamdulillah kami sampai di pos ojeg.
Perlu
dicatat, di Gunung Sindoro setelah pos 1 terdapat pos ojeg yang biasa
mengantarkan pendaki yang ingin mendaki atau setelah mendaki. Saya tidak
berkata apa-apa kecuali hanya beristighfar sebanyak-banyaknya ketika menaiki
ojeg Sindoro ini. Ya Allah, bapak-bapak ojeg disini luar biasa hebat. Saya
sendiri yang biasa mengendarai motor saja belum tentu berani kalau harus mengendarai
hingga pos 1. Apalagi jalan licin, berlumpur sehabis hujan. Barang bawaan kami
yang besar tak menciutkan nyali bapak-bapak ojeg demi sesuap nasi bagi keluarga
mereka. Subhanalloh, lagi-lagi saya kagum dengan perjuangan mereka mencari
rezeki yang halal.
Sesampainya kami bertiga di basecamp, kawan perempuan saya yang satu kedinginan. Ternyata
mereka turun juga dengan menggunakan jasa ojeg, dan dibayarkan oleh mas baik
hati karena uang mereka sudah tidak bersisa lagi. Kurang lebih satu jam
kemudian, mobil yang menjemput kami tiba. Kami berlima lantas bergerak menuju
rumah salah satu kawan perempuan saya di Magelang. Masya Allah, keluarga mereka
baik sekali. Kami disambut dengan hangat, dimasaki makan malam bahkan
disediakan air hangat untuk mandi. Saya bahkan diambilkan semangkuk bubur
kacang hijau oleh ibu kawan saya itu agar tidak kedinginan.
Dua kawan laki-laki saya memutuskan untuk langsung pulang ke
Yogya, sementara saya dan seorang kawan perempuan saya memilih untuk menginap
semalam di Magelang, karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan.
Alhamdulillah kami semua kembali ke Yogya dengan selamat. Perjalanan yang luar
biasa untuk kami semua, terutama saya pribadi. Kalau saja bukan karena
pertolongan Allah swt. saya tidak tahu lagi bagaimana keadaan saya. Kawan-kawan
saya yang luar biasa, dan keluarga kawan saya yang hangat membuat perjalanan
ini tidak akan saya lupakan.
Terima kasih Ya Allah atas hikmah perjalanan ini, perjalanan
yang banyak memberi pelajaran tentang hidup dan perjuangan, tentang kehangatan
dan kesetiakawanan. Tentang banyak hal yang terhampar di setiap langkah. Terima
kasih Ya Rabb, terima kasih kawan-kawan. Semoga Allah swt. membalas kebaikan
kalian semua.