Judul tulisan saya kali ini
berasal dari judul lagu seorang laki-laki cerdas dan tangguh asal Bogor. Saya
menulis ini sambil mendengarkan kisah hidup laki-laki tersebut. Sebuah kisah
yang membuat saya terdiam dan melihat kenyataan hidup bahwa sungguh pribadi
hebat terkadang lahir dari kehidupan yang keras bahkan saat kita melihat satu
warna dengan mata telanjang nyatanya warna yang sesungguhnya bersebrangan
dengan apa yang tampak di pandangan mata ini. Ironi..tapi saya belajar banyak
dari dirinya dari kisah hidupnya.
Kisah hidup yang penuh
dengan ironi seringkali saya temukan pada cerita orang-orang yang hidup di
ranah hiburan atau mereka yang selalu terlihat bahagia. Berusaha sekuat tenaga
untuk menghibur orang lain sekalipun jauh di dalam dirinya keguncangan besar
sedang terjadi. Pernah saya berkata pada adik tingkat saya yang setiap hari
selalu tertawa, sampai saya bingung kapan dia sedihnya, “Eh, kalau kamu lagi
sedih bilang ya” dan dia cuma menjawab, “Nggak kok Mbak, aku nggak sedih” sambil melanjutkan tawanya. Tidak dipungkiri
itu bagian dari resiko pekerjaan di ranah hiburan sebenarnya. Tapi kalau
dipikir kembali, di zaman sekarang pekerjaan-pekerjaan dalam ranah lain pun terkadang
sering menyita waktu, tenaga dan pikiran si pekerja itu sendiri. Sementara para
pekerja juga manusia biasa yang butuh dimanusiakan.
Kembali ke topik awal, dua
vokalis band favorit saya misalnya, Dollores O’riordan dan Chester Bennington
ditemukan meninggal bunuh diri. Saya sempat syok, saya tidak tahu pasti alasan
apa yang melatar belakangi kejadian itu. Saya sempat berpikir, mungkinkah
karena ada kejadian masa lalu yang terlalu menyakiti hingga menimbulkan
perasaan sendiri ditengah keramaian membuat mereka depresi atau ada gangguan berlebih
dari kami para penggemar? Jawabnya tidak tahu. Sepengetahuan saya memang mereka
memiliki cerita kelam di masa lalu yang bagi saya butuh kekuatan besar untuk bisa
sembuh dari luka itu, luka yang mungkin tidak pernah bisa dilupakan, tapi apa
benar karena luka masa lalu? Yang jelas masa kecil menjadi masa dimana apa yang
melekat pada diri ini terbentuk.
Cerita-cerita di atas
menjadi prolog dari poin penting yang ingin saya bahas disini. Luka masa kecil
yang membekas sampai mati. Di novel-novel karangan Torey Hayden, seorang novelis
sekaligus praktisi di bidang anak-anak berkebutuhan khusus, banyak kisah
tentang anak didiknya yang mengalami luka masa kecil. Dan yang membuat saya
semakin tercengang adalah bahwa luka masa kecil mereka membentuk diri mereka
menjadi seseorang yang tak terjamah. Beberapa melampiaskan dengan hal-hal
ekstrem tapi sebagian lagi melampiaskan dengan menutup diri.
Ya Allah, sembari saya
membaca emosi dalam diri saya bercampur aduk. Dan kisah yang diangkat
benar-benar kisah nyata. Ingin rasanya memberi pelukan hangat, mengusap dengan
lembut orang-orang dengan luka masa kecil. Luka yang sengaja atau tidak sudah
tergores di dalam diri mereka. Saya hanya bisa tertegun dan berdoa semoga hidup
mereka kedepan jauh lebih baik. Semoga luka yang membekas itu bisa tersembuhkan
seiring berjalannya waktu. Mungkin alasan ini juga yang menguatkan saya untuk
menjadi guru sekolah dasar. Saya tidak ingin anak murid saya mengalami luka
masa kecil yang terus dia bawa karena lukanya tidak tersembuhkan di masa itu.
Anak-anak sejatinya adalah kertas putih yang tak berwarna dan hitam kelamnya
warna pilihan mereka bisa jadi karena ada sumbangsih dari manusia dewasa yang
menorehkan warna kelam dalam dirinya, sengaja atau tidak.
Buat saya sendiri dan
mungkin orang-orang diluar sana, mari kita berdamai dengan hidup ini. Berani memaafkan
diri sendiri, mencintai diri ini dan terus optimis dalam menjalani hidup. Ada
hal-hal yang tidak bisa kita jawab hanya dengan mengandalkan akal, tapi
jawablah dengan kepasrahan padaNya karena semua yang terjadi terkadang tak kita
pahami mengapa? Kita hanya butuh yakin denganNya.