Rabu, 26 Februari 2014

Kota-kota, Kecil-kecil, Sederhana saja

Tiap kota pasti memiliki keindahannya masing-masing dan cara untuk menikmatinya. Siang ini, ada yang ingin saya hirup baunya. Aroma khasnya, lembar demi lembar. Maka berkendaralah saya dengan menumpang bus kota yang mengantarkan saya pada usaha pencarian ini. Perjalanan singkat yang melewati beberapa perhentian rupanya mengajari saya bagaimana caranya menikmati suasana kota.

Kota yang saya tinggali memang bukan kota sebesar ibukota, tapi tidak juga kota yang terpencil sekali. Saya memang menyukai kota-kota kecil nan sederhana yang tiap ruangnya menghadirkan rasa nyaman. Perjalanan saya bukan bertujuan khusus untuk mengelilingi kota, perjalanan saya punya tujuan lain. Bak pepatah, sambil menyelam minum air, maka sambil melakukan pencarian saya menikmati suasana kota sederhana ini. 

Disini saya masih bisa melihat si Mbah- si Mbah menumpang bus kota dengan membawa bakul yang beratnya tidak umum untuk para lansia. Justru disini letak uniknya, kernet bus dan sopir mengerti benar siapa penumpang yang mereka angkut. Si Mbah- si Mbah tentu lebih diperhatikan, mungkin ini memang tidak bisa digeneralisasikan, saya melihat sopir dan kernet bus di kota ini cukup terbilang ramah dan sopan. Berbeda dengan kota saya dibesarkan, sradak sruduk sing penting setorane akeh. Ora mikir sing diangkut cah nom opo si mbah-si mbah. Hajar Bleh..

Saya tidak bermaksud membandingkan karena saya tahu tiap tempat, tiap kota selalu menghadirkan kekhasannya. Kota saya dibesarkan pun punya sisi lain untuk dinikmati, hanya saja saya belum tahu bagaimana cara menikmatinya. Saya benar-benar menikmati apabila hujan datang dan meneduhkannya. Kota yang saya tinggali ini memang tidak sebegitu lengkap aksesnya seperti kota saya dibesarkan. Suasana alam dan masyarakatnya yang membuat saya nyaman disini. 

Ada kota lain yang tak jauh dari kota yang saya tinggali sekarang, menyimpan keindahannya yang tersembunyi. Kota kecil, lebih kecil dari kota tempat saya bermukim saat ini, yang saya pikir tidak ada yang menarik didalamnya. Dugaan saya salah, setelah saya telusuri kota tersebut menyembunyikan (saya saja yang kurang paham sebenarnya) keindahan alam yang saya kagumi.

Saya yakin ada banyak kota-kota kecil di Indonesia, yang sama indahnya, yang belum saya jamahi. Kota-kota kecil sederhana..

Lain Waktu

Mencarimu ternyata tak semudah yang kukira
Sudut demi sudut, lapak demi lapak, kota demi kota, modern hingga tradisional
Tak sedetik pun kita berjumpa

Aku sebenarnya tahu 
Dimana dirimu berada
Masih tersisa begitu banyak

Namun, perjuanganku mencarimu
Kadang harus kutunda
Tak bisa aku egois
Akan ada hal lain yang harus kukejar
Sama denganmu

Lain waktu
Mungkin Tuhan akan mempertemukan kita
Entah kapan dan dimana


AKU INGIN

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono)

Selasa, 25 Februari 2014

Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami.
Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan.
Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan.
Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya.
Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.
Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat.
Karena itulah kami naik gunung.

(Soe Hok Gie)

Jumat, 21 Februari 2014

Namaku "Si Baik Hati"

Hallo, kenalkan namaku Si baik hati
Aku bersekolah di sekolah kecil ini tapi penuh warna
Teman-temanku sedikit, tidak sama dengan sekolah lainnya yang kudengar satu kelasnya saja bisa 40 orang
Wow, besar sekali ya
Aku Si baik hati
Mungkin jarang terlihat tersenyum 
Aku berjingkat-jingkat 
Memainkan rambut dikepalaku
Aku Si baik hati
Meski temanku tidak banyak, aku merasa senang
Setidaknya aku tidak sendiri
Pelajaran di sekolah menyenangkan
Hanya saja masih sulit untukku mengikutinya dengan baik
Tapi aku bahagia, aku tidak marah
Guru-guruku begitu menyayangiku
Waktu aku disana, aku lihat ada orang asing
Asing sekali..
Aku belum pernah bertemu dengannya
Dia seharian melihatku belajar dengan teman-teman dan guruku
Dia tidak sendiri
Dia juga membawa serta seorang teman
Yah, perjumpaan kita sebentar sekali
Aku cium tangannya saja
Dia sepertinya terharu
Semoga kita bisa ketemu lagi di lain kesempatan kakak :)


Mana Peduliku?

Dunia begitu luas kawan
Bahkan seandainya seumur hidupku kulalui hanya untuk menjelajahi setiap sudutnya, takkan mampu aku mengitarinya
Begitu mungkin perkataan seorang pesimistis
Nah, cobalah kau beri tahu aku letak perbedaan pesimistis dengan realistis
Mereka berbeda tapi terlihat mirip dalam pandanganku
Kawan, bagaimana kabarmu?
Aku dengar dunia semakin hina saja kelakuannya
Apakah keadaanmu baik-baik saja?
Belum lama aku mendapat kabar, bahwa keadaanmu kini semakin parah
Tak ada lagi tempat aman untukmu yang seharusnya menjadi hak semua umat manusia
Bagaimana bisa seorang manusia hidup tanpa rasa aman?
Akan tumbuh jadi apa kita?
Ditambah, kawan lain kita baru saja terkena dampak kehinaan mahluk-mahluk tak berakal
Di negeriku kami di pereteli satu demi satu, dihancurkan perlahan-lahan, sangat halus
Aku? bisaku berteriak dan kebingungan
Realitanya tak mampu aku membantu kalian 
Atau aku hanyalah segumpal kepesimistisan?
Maaf..lagi-lagi kata itu yang terlontar dari ujung bibir ini
Ngilu hatiku karena yang kutahu kita adalah saudara, kawan
Aku dan kalian satu tubuh
Tapi mana peduliku? 
Mampuku menyalahkan realita dan bertindak pesimistis
Aku tak mampu berbuat lebih, disaat kalian begitu membutuhkan
Maaf, kawan..
Mampuku hanya mengirimkan do'a kecil untuk kalian
Semoga Allah mengirimkan malaikat-malaikatnya untuk menjaga kalian





Selasa, 18 Februari 2014

Melihat Indonesia I

Ada banyak cara kita mengapresiasikan Indonesia atau kalau kata Efek Rumah Kaca "Menjadi Indonesia". Belakangan ini memang banyak kaum muda yang tidak lagi malu untuk katakan saya anak Indonesia meskipun kebobrokan negara juga masih tetap ada. Tapi, rasa cinta tanah air dan mau merubah Indonesia menjadi lebih baik itulah yang harusnya diacungi jempol.

Intermezzo sedikit, saya bersyukur banget diterima di universitas "Ndeso". Bahkan, filosofi jaket almamternya saja sangat-sangat kerakyatan sekali, belum pernah saya lihat ada universitas lain yang almamaternya memiliki warna yang sama dengan universitas saya ini. Ada satu lagi yang saya sukai dari universitas saya yaitu kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bagi saya, KKN merupakan salah satu cara untuk melihat Indonesia lebih dekat.

Nah, kali ini yang mau saya ceritakan adalah pengalaman saya KKN kemarin di daerah Teluk Alulu, Maratua, Berau, Kalimantan Timur. Seumur hidup saya, baru kali pertama ini saya dengar ada pulau bernama Maratua di daerah Kaltim. Saya yang awam memang tidak begitu tahu mengenai keberadaan pulau Maratua. Pengetahuan saya mengenai P. Maratua ini sebatas cerita dari teman kos saya yang sebelumnya sudah lebih dulu KKN disana. Tapi, kala itu saya hanya fokus pada ceritanya bukan pada tempat dan lokasinya. Saya tidak ngeh sama sekali.

Ternyata setelah seorang teman saya yang lain mengajak untuk bergabung saya baru tahu ada pulau bernama Maratua dan juga tempat KKN teman kos saya itu. Saya memang belum bergabung atau menggabungkan diri dengan tim KKN manapun dikala teman-teman saya sudah banyak bergabung di grup KKN 2010. Saya sendiri bingung mau kemana, yang pasti saya bertekad untuk KKN di luar jawa. Niat saya hanya satu, saya mau lihat Indonesia itu seperti apa? 

Katanya negara kepulauan, beragam suku, budaya dan agama. Makanya saya mau lihat dia dari dekat. Saat saya tahu pulau tersebut berada di Kalimantan, saya semangat bukan main. Saya tidak munafik, ada perasaan cemas juga kala itu. Saya belum pernah menjejakkan kaki di Kalimantan, apalagi mendengar cerita-cerita dari orang-orang mengenai kehidupan disana, semakin menambah kecemasan saja. Tapi, rasa penasaran itu terkadang bisa mengalahkan rasa takut itu sendiri. Jadi, Bismillah saya tuliskan besar-besar pada daftar cita-cita saya: KKN Maratua 2013.

Singkat cerita, melalui oprec dan wawancara yang ketat karena memang peminatnya lumayan banyak, Alhamdulillah diterimalah saya di tim KKN Maratua 2013. Masih ada yang mengganjal sedikit, sebab jumlah SKS saya waktu itu masih ambigu, sudah sampai 100 atau belum dan tidak boleh ada nilai E. Gawat, saya memang agak bermasalah dengan yang namanya SKS atau nilai matkul. Rasanya deg-degan menunggu positif atau negatif saya bisa KKN tahun ini. Alhamdulillah, SKS saya mencukupi untuk berangkat dan nilai matkul saya tidak jadi penghambat. Fiuh, leganya.. Maratua, aku datang!!!

Izin dari orang tua sudah saya kantongi, setelah sebelumnya sempat berargumentasi sedikit pada kakak saya yang kedua. SKS dan nilai, cukup. Dana, Alhamdulillah cukup. Setelah rapat dan melakukan pertemuan berkali-kali, tibalah waktunya saya meraih cita-cita saya, KKN di luar P. Jawa..

Kalau tidak salah, kami berangkat dari kampus pada tanggal 5 Juli di pagi buta. Perjalanan saya ke Maratua ditempuh melalui jalur darat, laut dan udara. Total waktu perjalanan sekitar 21 jam. Sebelum kami tiba di P. Maratua, kami sempat menginap di kota Berau sebentar. 

Perjalanan laut yang menyenangkan, hahaha bahagianya saya. Bersyukur banget, ketika saya menyadari saya tengah berlayar di laut diantara pulau-pulau nusantara. Pengalaman saya bertambah lagi, Indonesia aku datang, Maratua tunggu aku!


  

Ketika hasrat terhalang syariat
Cinta tak mampu melekat karena takut maksiat
Shalatlah berbilang rakaat atau puasalah selagi dapat
(Ust. Felix Siauw)