Waktu tiga hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. 'Umar gelisah tak karuan. Dia mondar-mandir sementara Salman duduk khusyu' di dekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya di ujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tak datang memenuhi janji, maka dirinyalah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.
Waktu terus merambat. Belia itu masih belum muncul.
Kota Madinah mulai terasa kelabu. Para sahabat berkumpul mendatangi 'Umar dan Salman. Demi Allah, mereka keberatan jika Salman harus dibunuh sebagai badal. Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanannya untuk Islam begitu besar itu. Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia dihormati. Dia dicintai.
Satu demu satu dimulai dari Abu Darda', beberapa sahabat mengajukan diri sebagai pengganti Salman jika hukuman benar-benar dijatuhkan padanya. Tetapi Salman menolak. 'Umar juga menggeleng. Matahari semakin lingsir ke barat. Kekhawatiran 'Umar makin memuncak. Para sahabat makin kalut dan sedih.
Hanya beberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tampak seseorang datang dengan berlari tertatih dan terseok. Dia pemuda itu, sang terpidana. "Maafkan aku," ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah,"Urusan dengan kaumku itu ternyata berbelit dan rumit sementara untaku tak sempat beristirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa kutinggalkan di tengah jalan. Aku harus berlari-lari untuk sampai kemari sehingga nyaris terlambat."
Semua yang melihat wajah dan penampilan pemuda ini merasakan satu sergapan iba. Semua yang mendengar penuturannya merasakan keharuan yang mendesak-desak. Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang pemuda harus berakhir hidupnya di hari itu.
"Pemuda yang jujur,"ujar 'Umar dengan mata berkaca-kaca,"Mengapa kau datang kembali padahal bagimu ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash?"
"Sungguh jangan sampai orang mengatakan,"kata pemuda itu sambil tersenyum ikhlas,"Tak ada lagi orang yang tepat janji. Dan jangan sampai ada yang mengatakan, tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum muslimin.
"Dan kau Salman,"kata 'Umar bergetar,"Untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali? Bagaimana kau bisa mempercayainya?"
"Sungguh janan sampai orang bicara,"ujar Salman dengan wajah teguh,"Bahwa tak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai ada yang merasa, tak ada lagi rasa saling percaya di antara orang-orang Muslim."
"Allahu Akbar!"kata 'Umar,"Segala puji bagi Allah. Kalian telah membesarkan hati ummat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai pemuda, had untukmu harus kami tegakkan!"
Pemuda itu mengangguk passrah.
"Kami memutuskan..."kata kakak beradik penggugat tiba-tiba menyeruak,"Untuk memaafkannya." Mereka tersedu sedan."Kami melihatnya sebagai seorang yang berbudi dan tepat janji. Demi Allah, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal an beristighfar kepada Allah atas dosanya. Kami memaafkannya. Janganlah menghukumnya, wahai Amirul Mukminin."
"Alhamdulillah! Alhamdulillah!" ujar 'Umar. Pemuda terhukum itu sujud syukur. Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan asma Allah, yang kemudian bahkan diikuti oleh semua hadirin.
"Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?"tanya 'Umar pada kedua ahli waris korban.
"Agar jangan sampai ada yang mengatakan,"jawab mereka masih terharu,"Bahwa di kalangan kaum Muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang."
Subhanallah.. semoga kita bisa merenungkan dan mengambil hikmah dari kisah luar biasa di atas. Aamiin.. :)