Yah, yah..kalau kita naik kapal berarti ayah yang jadi nahkodanya kan?
Ayah yang ngemudiin kapalnya, ajak kita pergi kemana ayah mau arahin kapalnya.
Kalau ayah ngemudiin, aku siap lho jadi asistennya, biar nanti ayah sama aku bisa ngobrol banyak.
Aku pingin lho yah, cerita sama ayah.
Ayah, yang semangat ya negemudiin kapalnya biar kita nggak nyasar.
Nanti ayah ajarin aku juga, gimana caranya ngemudiin kapal.
Aku kan pingin hebat juga kaya ayah bisa bawa kapal di lautan luas.
Yah, terima kasih ya udah jadi nahkoda paling hebat buat aku.
Rabu, 17 Februari 2016
Selasa, 16 Februari 2016
Anak
Maraknya isu pornografi, narkoba, LGBT, kecanduan games yang sekarang sedang menjalari tubuh anak-anak kita ternyata bukan sekedar isu. Itu benar-benar ada di sekitar kita. Beberapa kali saya sempat membaca entah itu melalui sosial media, berita di tv atau artikel-artikel online mengenai masalah-masalah yang mengancam anak-anak kita. Mulai dari penyebab hingga dampak yang ditimbulkan, membuat saya semakin berpikir ternyata sudah sedemikian parahnya lingkungan anak-anak kita. Tapi saya hanya bisa berpikir dan membayangkan saja, seperti apa anak-anak yang mengalami masalah seperti itu.
Saya terkesiap, ya... Allah berikan saya kesempatan melalui mata saya sendiri bukan dari "katanya" untuk melihat apa yang terjadi pada anak-anak kita. Zaman maju, tapi kemajuan yang tidak disikapi dengan arif justru dapat menjerumuskan kita layaknya pepatah"senjata makan tuan". Secara tidak sengaja saya melihat folder handphone seorang anak laki-laki. Usianya memang tidak lagi remaja, dewasa awal. Tapi secara kemandirian, si anak masih sangat bergantung pada orang tuanya. Maka bisa dibilang dianya adalah remaja yang diperpanjang. Itu penjelasan secara teorinya.
Dan tahu apa? ya, isinya video horror lebih dari satu. Belum lagi fakta percakapan anak-anak remaja sekarang yang isinya tidak jauh horrornya dengan video tadi. Ya Allah...kiamat memang sudah dekat. Anak-anak sekarang bahkan sudah lebih mengerti hal-hal yang belum waktunya ia pelajari. Maka tidak aneh jika kasus aborsi dan kehamilan di luar nikah meningkat tajam. Na'udzubillah...
Hai generasi muda, tahu ga sih kalian kalau anak yang lahir dari hasil hubungan ilegal itu terputus dari nasab bapak kandungnya sendiri. Besok kalau dia menikah, bapaknya itu ga berhak buat mewalikan. Sadar ga sih kalian, berapa banyak bayi-bayi yang terbunuh tanpa tahu karena alasan apa dia dibunuh? Berapa banyak gadis-gadis muda yang meninggal di kamarnya sendiri karena melakukan aborsi..Please be grow up
Ingin sekali saya teriakan dikuping si anak yang ketahuan belangnya. Tapi saya lagi-lagi berpikir, apa yang dilakukan anak bisa jadi merupakan refleksi dari pola asuh orang tuanya.
Teringat cerita teman saya yang mengeluh karena setiap bertemu seorang anak, sebut saja "A" tangan teman saya itu selalu digelayuti oleh si A sampai risih rasanya. Waktu itu saya belum nyambung dan merasa biasa saja, tapi beberapa hari setelah mendengar cerita teman saya itu, saya baru sadar si A adalah anak yang ditinggal ibunya bekerja dari dia masih sangat kecil. Teman-teman mainnya pun terkadang mengejeknya, sebab tahu ibu si A meninggalkan dia sejak kecil. Analisis saya si A kehilangan sosok ibunya, maka dia dengan mudah menggelayuti tangan teman saya itu. Si A mungkin cuma ingin tahu rasanya punya ibu seperti apa.
Teringat cerita teman saya yang mengeluh karena setiap bertemu seorang anak, sebut saja "A" tangan teman saya itu selalu digelayuti oleh si A sampai risih rasanya. Waktu itu saya belum nyambung dan merasa biasa saja, tapi beberapa hari setelah mendengar cerita teman saya itu, saya baru sadar si A adalah anak yang ditinggal ibunya bekerja dari dia masih sangat kecil. Teman-teman mainnya pun terkadang mengejeknya, sebab tahu ibu si A meninggalkan dia sejak kecil. Analisis saya si A kehilangan sosok ibunya, maka dia dengan mudah menggelayuti tangan teman saya itu. Si A mungkin cuma ingin tahu rasanya punya ibu seperti apa.
Kisah lain, saya mendapati seorang anak dengan kehidupan rumah tangga ayah ibunya yang rumit. Setiap hari si anak selalu dibekali uang 30 ribu oleh ayahnya. 10 ribu untuk jajan, 20 ribu untuk membeli makan selepas sekolah. Hari-harinya dilalui dengan bangun tidur, pakai baju, membereskan buku sendiri. Kelihatannya baik, sangat mandiri. Tapi disini, kemandirian yang ada tersebab dia tidak sempat diperhatikan orang tuanya. Hasilnya dia tidak terawat, padahal bila dilihat dia adalah anak yang penurut dan baik.
Miris saya melihat kenyataan begitu adanya. Anak-anak yang kurang perhatian, kasih sayang, dan kesepian. Benarlah keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak. Kasih sayang serta perhatian orang tua adalah kunci penting bagi tumbuh kembang anak, dan do'a orang tua ialah salah satu wujud dari kasih sayang itu. Pelajaran penting bagi para orang tua dan calon orang tua, anak adalah titipan. Kelak itu menjadi tanggung jawab yang akan dipertanyakan diakhirat. Jangan sia-sia kan mereka...
Langganan:
Postingan (Atom)