Kamu tahu, saya bekerja di sebuah tempat yang setiap harinya bertemu banyak orang dengan berbagai rupa, latar belakang budaya, bahasa, pemahaman, kepentingan. Selama itu saya terus mengamati berupa-rupa watak orang yang mungkin ada watak saya juga diantara watak-watak mereka. Sifat saya cenderung ajeg, teratur, sebagian mungkin bilang konservatif dan manut-manut saja. Saya akan sangat sentimentil ketika sesuatu yang sudah diatur sedemikian rupa lantas ditentang karena 'urusan saya lebih mendesak'.
Iya saya paham, saya juga tidak suka mempersulit orang lain. Toh saya sendiri juga tidak mau jika diri saya harus dipersulit. Saya hanya heran kenapa tidak jauh-jauh hari? Kalian tahu apa rasanya perang batin? Mungkin sebagian orang menganggap ini masalah sepele yang tidak perlu dibesar-besarkan. Saya cuma mikir saja, banyak orang lain yang juga punya urusan mendesak, tapi kenapa ada orang-orang yang masih saja merasa urusannyalah yang paling mendesak. Coba kalian pikir, kalau saya mengizinkan satu orang tersebut segera kelar urusannya dengan menyalahi aturan padahal ada orang lain yang mungkin urusannya sama mendesaknya atau bahkan lebih mendesak tetap mau menaati aturan, dimana letak keadilan?
Ini bukan sekadar taat aturan saja, tapi ini bicara keadilan, bicara kebersamaan, bukan rasa menang sendiri. Iya ini mungkin remeh, tapi bagi saya tidak. Tahu? saya mengalami perang batin, saya dzalim dengan yang lain. Bagaimana keadaan bisa membaik kalau dalam hal-hal kecil saja masih mau menang sendiri? Dulu sekali waktu saya masih kuliah, saya pernah melanggar aturan. Saya mencoba jujur apa adanya, saya akui kesalahan saya, saya terima konsekuensinya, alih-alih malah saya dibilang menantang. Sekarang saya mencoba memberitahu kekurangan supaya segera diperbaiki, bukannya terima konsekuensi malah menantang balik. Apa sih maunya?
Semua rasa yang saya pikir itu adalah yang seharusnya dilakukan, dihancurkan, ditolak, dipatahkan. Wajar banyak generasi sekarang yang tidak tahu mana yang benar dan salah karena yang salah dipaksa menjadi benar dan yang benar malah dikira berbuat kurang ajar. Iya, kesalahan yang terus menerus dan dilakukan oleh banyak orang bisa dianggap menjadi sebuah kebenaran. Rasanya ingin muntab saya. Tapi yah sudahlah, saya mengaca saja.