Rabu, 15 Mei 2013

Berusaha merasa semua baik-baik saja
Tapi nyatanya tetaplah hadir
Segumpal rasa, tercekam di jiwa
Abstrak atau ketidakpekaan?
Itu saja

Kamis, 02 Mei 2013

Ibu

Ada berapa macam jenis ibu dimuka bumi ini, tepatnya saya tidak tahu. Mungkinkah sama dengan jumlah karakter manusia di dunia ini? Entahlah..Pada hakikatnya seorang ibu tetaplah sama, yang melahirkan kita.
Dari rahim sucinyalah kita lahir, dikandungnya kurang lebih sembilan bulan. Nyatanya, ada juga ibu yang tega menggugurkan janin kecilnya yang rapuh. Tapi pantaskah wanita penggugur itu disebut ibu, saya rasa tidak.

Ibu dengan kata lain sering diterjemahkan sebagai malaikat yang Tuhan titipkan pada kita sungguh tidak sesempurna yang kita dambakan. Tapi, Tuhan tahu potensi diri kita. Tuhan tahu malaikat mana yang tepat untuk mendampingi kita, tak akan pernah salah apalagi tertukar.

Betapa bencinya kita pada sosok malaikat itu, pada akhirnya dengan membuang segala kemunafikan diri, kita akan selalu merindukannya. Terkecuali pada orang-orang yang "sakit mentalnya". Dia semena-mena, dia acuh, dia kasar, tapi dirindukan. Kita rindu kehangatannya, fitrah seorang ibu, kelembutannya, kasih sayangnya, perhatiannya, hingga masakan gagalnya selalu menjadi sesuatu yang menusuk relung kalbu.

Rintihan mata ini sering menderu-deru tak jelas kala benci, kesal, rindu serta merta menyelimuti sukma. Malaikat ini benar-benar tidak bisa dibenci atau dicaci. Dia selalu termaafkan dengan sendirinya.

Mah, laper...
Pusing...
Masak apa, Mah?
Temenin..
Mah, beli jus ya?
Ga mau ah, nanti mienya jadi ga enak.
Mah, dicariin Tante...
Abis dari mana Mah?
Itu apaan Mah? Makanan ya?
Kerudungnya ditaro dimana Mah?
Besok bawain bekel ya Mah.
Mah, jemput ya.
Mau kemana, Mah?
Tadi Bude telpon, nanyain Mamah.
Mah, besok disuruh bawa ini.
Ga bisa Mah.
Beli ini ya Mah?

Mah, besok pagi jangan lupa bangunin ya?
Mamah dimana?



Percakapan Semut


"Dimana rumahmu?" tanya seekor semut padaku.
Ku bilang, "Engkau harus menengokan kepalamu ke arah yang berlawanan dari tempatmu berdiri".
Semut membalikkan badannya sambil mencari-cari letak rumahku. "Tak ada apa-apa disana", lihatnya.
"Engkau perhatikanlah baik-baik wahai semut sahabatku, disana itu ada rumahku, apa kau tidak melihatnya?"
"Tidak, sungguh mataku ini masih bagus dayanya, aku benar-benar bingung".
Kemudian dia picingkan kedua matanya, agar semua tajam dalam penglihatannya. Dalam hatinya dia berprasangka, mungkin ini hanya akal-akalan manusia ini saja.
"Coba Kau katakan apa yang Engkau lihat dari kedua matamu Semut".
"Sejauh penglihatanku, aku hanya melihat cahaya sore dan gumpalan awan-awan saja. Satu, dua burung melintas. Tapi tidak melihat ada rumah satupun bertengger disana, bahkan bayangannya pun tidak. Kamu menipuku ya?" tanya semut itu padaku.
"Semut..semut..Kamu tidak tahu ya, dibalik senja itu, di tempat matahari menyemburatkan warna lembayungnya, disana rumahku berada. Indah bukan?"
"O, begitu ya..." semut berusaha mencerna penjelasanku tadi.
"Iya, itulah mengapa sebabnya aku selalu menghadap ke barat. Sebab, di baratlah aku dapat melihat senja. melihat rumahku. Melihat keluargaku" balasku dengan senyum.