Jadilah saya pergi ke kota Solo menggunakan bus antar kota. Saya memang sudah beberapa kali ke kota tersebut. Tapi, biasanya saya pergi berdua atau ada teman sesampainya disana. Kali ini saya seorang diri saja. Naik bus ke Solo juga baru kali pertama, sebelumnya saya biasa menggunakan motor atau kereta. Niat awal memang naik kereta, karena terlanjur ketinggalan saya bablas saja ke arah Terminal.
Sepanjang jalan menuju terminal, jalan ramai dengan orang kampanye yang bikin saya emosi (gimana nggak emosi kalau caranya kampanye cuma bikin polusi suara sambil petantang-petenteng kaya jagoan). Bus penuh sesak kala itu sebab saya berpergian di waktu weekend. Bus melaju hingga tiba di lampu merah ringroad timur. Kernet bus berteriak "Solo, Solo yang ke Solo!", sontak saya turun saja daripada harus ke terminal yang masih agak jauh. Jujur, ketika saya turun dari bus, sebenarnya saya nggak tahu mesti naik bus yang mana. Saya sok-sok-an ngerti saja, dalam hati berkata cari saja bus yang ke arah Solo.
Selang berapa menit menunggu, bus jurusan Solo datang. Mas-mas penjual sandal yang sama-sama menunggu pun memberitahu saya "Yok Mbak ke Solo ini". Saya langsung bergegas naik bus tersebut. Karena ini pengalaman saya naik bus ke Solo sendirian, patokan saya pokoknya berhenti di akhir tujuan kalau nggak terminal. Saya anteng saja selama perjalanan sambil sesekali mendengar pengamen yang silih berganti datang. Saya perhatikan baik-baik jalur yang dilewati bus, jaga-jaga takut saya nyasar.
Jalur yang dilewati tidak jauh berbeda dengan jalur yang saya lewati ketika naik motor. Bedanya hanya ketika melewati stasiun Klaten. Bus umum melewati belakang stasiun. Saya sempat tertidur sebentar sampai kira-kira memasuki daerah Surakarta. Saya memilih kota Solo sebab sudah lama ada sesuatu yang ingin saya cari disana, namun belum sempat mencarinya. Kebetulan saya suntuk, saya langsung saja kepikiran untuk segera pergi ke Solo sambil mencari sesuatu itu.
Dua tempat yang diindikasi terdapat sesuatu. Untungnya, dua tempat tersebut masih dalam satu kawasan sehingga tidak butuh waktu yang lama untuk berpindah tempat. Kunci sukses melakukan perjalanan ialah bertanya jika tidak tahu. Bus yang saya naiki melaju melewati jalan yang ingin saya tuju, akhirnya saya beranikan diri bertanya pada seorang Bapak yang duduk disebelah saya. Beliau menjelaskan secara singkat dimana saya harus turun.
Saya turun disebuah pom bensin. Saya sholat sebentar dan membeli beberapa pengganjal perut. Setelah tanya sana-sini, saya naik becak menuju tempat yang saya incar. Singkat cerita saya belum berhasil bertemu dengan sesuatu yang saya cari. Maka, beranjaklah dengan segera saya ke tempat yang lain. Hampir saya salah jurusan ketika akan menaiki BTS.
Waktu yang tersedia untuk mencari lumayan singkat karena saya mengejar kereta untuk pulang ke Yogya. Saya nggak mau melewatkan pemandangan cantik bukit-bukit itu. Tempat kedua yang saya sambangi mempertemukan saya dengan sesuatu yang sudah saya incar jauh-jauh hari. Akhirnya, kita bertemu disini. Tanpa panjang lebar, saya langsung saja membawa ia pergi. Menumpang becak lagi hingga sampai ke stasiun Solo Balapan. Alhamdulillah saya nggak ketinggalan kereta, masih bisa sholat ashar dan istirahat sebentar.
Saya sampai di kosan kembali saat maghrib menjelang, saya turun di stasiun Maguwo untuk menghindari macet bila harus turun di Malioboro. Dari Maguwo saya transit di halte terminal Condongcatur. Saat saya kembali, daerah kosan mati listrik. Tapi tak apalah, yang penting saya sudah bertemu dengan sesuatu yang saya incar begitu lama. Setidaknya mengurangi kesuntukan saya yang benar-benar sudah memuncak. Seandainya saya nggak ngabur dari kosan pagi itu, saya nggak tahu lagi akan melakukan apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar