Salah satu
kegiatan alam yang menurut saya menakutkan adalah caving. Mungkin karena
pengaruh dari beberapa film yang pernah saya tonton juga, sehingga membuat
anggapan bahwa goa itu menakutkan. Suasana gelap, pengap, lembab, berbatu-batu
menambah liar pikiran saya. Ketakutan semisal bertemu mahluk goa dan
penunggu-penunggunya campur aduk di kepala.
Kebetulan
di kampus saya ada tawaran untuk fun caving. Saya memang suka bercengkrama
dengan alam tapi kalau caving, saya berasa sedikit gimana gitu. Nah, yang kala
itu ditawarkan memang hanya fun caving, maka jadilah saya ikut kegiatan
tersebut. Saya memang takut dan seumur hidup belum pernah caving. Jangankan
caving, naik gunung saja saya belum pernah.
Lokasi
saya caving lumayan jauh di daerah Ponjong, Gunung Kidul. Saya terperangah
melihat mulut goa yang besarnya Subhanallah, gede banget. Goa yang saya masuki
berjenis horizontal. Peralatan yang saya kenakan berupa pelampung, helm,
headlamp dan boots. Jalan menuju goa berupa tangga, yang entah berapa banyak
jumlahnya. Selebihnya ialah gundukan batu dan tanah merah.
Saya
khawatir terpeleset disana, karena medannya cukup licin dan berlumpur. Saya
turun pelan-pelan sambil terus baca-baca doa. Turunannya sedikit terjal, tapi
dasarnya saya penakut makanya saya paling lama sampainya. Di dalam goa terdapat
aliran air yang cukup bervariasi kedalamannya, pertama kali sampai jalur air
yang harus dilewati berketinggian sedada orang dewasa.
Saya
teringat trauma waktu KKN dulu, yang hampir tenggelam dan menenggelamkan orang
lain. Lantas, paniklah saya dan saya jadi heboh sendiri. Saya takut kejadian
KKN terulang lagi, Naudzubillah. Alhamdulillah saya mengapung, saya bertekad
kali ini saya tidak boleh menyusahkan orang lain. Diantara peserta yang lain, saya
merasa sayalah yang paling lelet dan heboh sendiri. Saya begitu sebenarnya
untuk mengalihkan rasa takut saya masuk goa.
Jalan
sepanjang goa benar-benar gelap, lembab, licin, dan berbatu tajam. Airnya
berlumpur dan beberapa kali boot saya
menempel sehingga memperberat langkah. Di spot-spot tertentu saya istirahat
sambil main-main air yang mengalir. Wah, airnya benar-benar bikin segar. Saya
senang duduk-duduk di atas batu yang dialiri air. Kapan lagi saya bisa begitu.
Selama perjalanan
sepanjang 2KM lebih terasa seperti di wahana istana boneka DUFAN. Hanya saja
tidak pakai kereta, tapi kita sendiri yang berjalan-jalan. Hewan yang saya
temukan berupa kepiting dan sejenis jangkrik. Alhamdulillah saya tidak bertemu
dengan the most scary animal “ULAR…”.
Saya
tidak sampai ujung menyusuri goa tersebut karena waktu yang mepet. Perjalanan
susur goa ini berakhir di tempat yang disebut dengan air terjun. Air terjun ini
seperti sebuah lubang kecil dan terdapat aliran air yang deras dari sisi atas. Untuk
masuk ke air terjun harus dengan memanjat dinding goa. Aih, segar nian saya
duduk sambil disiram air dari stalaktit. Saya cuci muka biar tambah segar.
Sebelumnya,
saya dan teman-teman mapala kampus melakukan upacara. Wah, saya berasa jadi
mapala, hehehe. Semua headlamp dimatikan, dan tidak ada apa-apa yang bisa
dilihat, hanya kegelapan. Saya berasa kecil,
saya membayangkan setiap orang kelak pasti berjalan sendiri dengan amalannya
masing-masing yang menjadi penerangnya. Bisa redup kaya lilin atau terang kaya
lampu LED. Saya dan teman-teman mapala duduk melingkar dan kemudian menyanyikan
himne mapala kampus saya. Keren…
Perjalanan
pulang itu memang rasanya selalu lebih singkat daripada berangkatnya. Bisa jadi
karena saya juga sudah beradaptasi dengan lingkungan dan mulai menikmatinya. Di
dalam goa banyak sekali ornamen seperti stalaktit, stalakmit, gorden dan
gordam. Saya jadi tahu apa itu gordam dan ornamen-ornamen goa lainnya. Ternyata
goa itu menarik, tidak juga seseram yang saya kira. Kesan menakutkan memang
tidak dipungkiri, tapi kalau kesana ramai-ramai bersama teman-teman rasanya
menyenangkan.
Bagian
favorit saya adalah bagian yang paling saya takutkan awalnya. Apalagi kalau
bukan menyusur di air yang dalam. Saya ketagihan karena saya menyusurinya
diantara bebatuan sempit. Rasanya seru saja, saya bingung menggambarkannya
bagaimana. Dan saya baru menyadari latihan-latihan fisik sebelum kita berkegiatan
alam itu memang penting, sebab ketika saya di goa saya merasa payah sekali.
Padahal sebelumnya juga sudah ikut latihan fisik, tapi tetap merasa lemah.
Mengangkat badan saja berat sekali rasanya.
Ketika keluar
goa rasanya benar-benar luar biasa, apalagi ketika melihat matahari. Ya Rabb, bisa
menghirup udara bebas itu nikmat rasanya. Menaklukkan rintangan dan sampai
ditujuan itu melegakan ternyata. Berlelah-lelah sehabis berjuang itu luar
biasa, apalagi bersama teman-teman.
Melawan ketakutan itu mengasyikkan rupanya.
Never
Give Up pokonya :D
Thanks to
teman-teman PALAPSI UGM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar