Manusia
adakalanya terburu-buru dengan sesuatu yang diinginkannya. Ketika tertarik
dengan suatu hal, inginnya segera bisa, segera dapat, dan segera-segera
lainnya. Dalam hal-hal tertentu itu mungkin layak diperjuangkan, layak untuk
dikejar. Kalau ternyata kita mendapati apa yang kita perjuangkan tadi,
janganlah lupa mungkin ini waktu yang tepat, momen yang pas, kondisi yang
mendukung yang Allah swt. berikan sehingga kita mendapat izin dariNya untuk
memiliki apa-apa yang diingini.
Di sisi lain,
kadang kita sering memaksa atau ambisius untuk mendapatkan sesuatu yang kadang
Allah swt. mungkin tidak ridho padanya. Mengharapkan sesuatu padahal belum
tentu tepat bagi kita. Suatu waktu saya pernah berharap semoga saya segera
mendapatkan hal yang saya ingini itu. Saya benar-benar berharap do’a saya
dikabulkan oleh Allah swt. Saya berpikir itu adalah salah satu jalan keluar
dari semua persoalan yang saya hadapi. Maka, saya sangat berharap permintaan
saya terkabul dalam waktu dekat ini.
Saya lupa,
apa-apa yang baik menurut kita belum tentu baik dimataNya. Saya gelisah, semua
serba pro-kontra. Kali ini nurani dan pikiran tidak bisa berjalan seiringan.
Antara obsesi, ambisi dan pasrah saling bergesekan satu sama lain. Semua
berpendapat. Pada akhirnya saya lelah sendiri.
Waktu yang
beberapa lama, perpindahan dari satu tempat ke tempat lain membuat saya kadang
lupa dengan harapan yang kemarin saya menggebu-gebu memintanya. Katakan saya
labil. Namun, sekembalinya dari perpindahan itu, saya baru menyadari. Bukan Allah swt. tidak mengetahuinya, betapa
inginnya dirimu. Justru karena Allah swt. Maha Mengetahui segala sesuatunya,
sekalipun tidak kau teriakan suara hatimu atau kau ucapkan hanya dengan suara
lirih saja. Allah swt. Maha mendengar.
Semua kejadian
yang saya lalui, yang saya singgahi, rupanya adalah rangkaian jawaban dari do’a
dan harapan saya kemarin. Satu per satu jika saya cermati perlahan, Allah swt.
tengah membukakan pikiran saya melalui kejadian disekitar untuk berpikir lebih,
untuk mendalami lagi do’a-do’a yang saya panjatkan. Mungkin belum terkabulnya
harapan saya bisa jadi karena saya juga belum siap semisal hal itu benar-benar
terkabul. Antara hawa nafsu dan kesungguhan saya saja masih abu-abu. Jadi
berbaiksangkalah pada Allah swt. karena dibalik itu semua ternyata Allah swt. lebih tahu dan lebih mengerti diri kita. Hampir dari diri kita pasti tahu itu,
tapi kita seringkali lupa atau pula menafikan sebab rasanya yang paling
mengerti diri ini ya hanya kita sendiri. Nyatanya, tidak selalu begitu. Selalu
meminta yang terbaiklah dariNya. Semata-mata yang terbaik menurutNya pasti baik
pula untuk kita. Terus sabar dan ikhlas, kawan J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar