Alhamdulillah, hari ini saya baru saja bermain hujan. Main hujan tentunya berbeda dengan ke-hujan-an. Waktu itu saya meminjam sebuah karpet kepada teman kos saya untuk acara kemping. Sudah lama saya berkeinginan untuk mencucinya, tapi enggan melakukannya. Tiba-tiba siang ini hujan turun cukup deras sehingga saya mengecek jemuran di lantai atas. Saya kemudian berpikir lagi, wah mumpung hujan masih deras saya terpikirkan untuk sekalian saja mencuci karpet yang saya pinjam itu.
Saya bergegas mengambil jas hujan dan membawa serta sabun colek juga sikat. Saya naik ke atas, gluduk sekali dua kali bergema. Hati kecil saya sebenarnya juga sedikit takut, kalau-kalau kesambar. Bismillah sajalah, saya lantas meyikiati kapet tersebut sambil tetap waspada dengan gluduk di atas sana. Akhirnya karpet sudah selesai saya cuci, saya malas untuk turun. Mirip orang gila mungkin, saya berdiri dan diam saja sambil senyum-senyum. Aih, sudah lama sekali saya tidak bermain hujan. Dulu sekali ketika saya masih SD, saya pernah minta izin orangtua waktu akan bermain hujan. Hahaha, saya takut dimarahi. Tapi ternyata dugaan saya salah, Ibu saya mengiyakan tanpa rasa khawatir.
Bagaikan ketiban durian, senangnya bukan main. Maka di bawah hujan deras, di depan rumah saya, di jalan gang rumah saya, saya lari-lari, melompat-lompat seperti katak yang bersenandung kala musim hujan tiba. Yiiiiihhaaaaaaaa...... sampai kira-kira satu jam kemudian saya sudahi dan segera masuk kamar mandi. Ibu saya cuma geleng-geleng saja melihat saya. Tapi jujur saja, rasanya sangat senang kala itu.
Hari ini saya melakukan hal yang sama, bedanya saya tidak lompat-lompat, saya tidak lari-lari, saya pakai jas hujan dan sudah tidak perlu meminta izin lagi. Saya hanya diam, berdiri. 30 menit saya berhujan-hujan ria, terkadang saya pikir berbicara tentang hujan adalah mainstream. Tetap tidak peduli, saya senang menceritakannya. Hujan itu sendu, dingin, berangin, sepi karena sebagian orang menepi, hangat karena hujan mengumpulkan kebersamaan. Meskipun saya juga pernah merasa tidak nyaman dengan hujan.
Tanaman di lantai jemuran mendadak seolah-olah bergerak riang sebab hujan turun setelah beberapa hari kemarin cuaca cerah dan panas. Lidah buaya di depan kamar kos saya mulai tumbuh subur. Hijau menyejukkan pandangan. Apalagi kalau satu dua tetes air menempel pada ujung-ujung dahannya. Ya Allah terima kasih atas hujan yang begitu menyenangkan. Bahagia betul saya ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar