Sindoro, sebuah gunung dengan ketinggian 3153 mdpl, terletak
di daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Ini adalah pendakian kedua saya setelah Gunung
Merbabu, dan di Gunung Sindoro pula puncak pertama saya berlabuh. Mengapa saya
tulis cerita di gunung ini, sebab menurut saya pendakian kali ini benar-benar
membuat saya terkesan. Saya adalah pendaki amatir..sebut saja newbie.
Disini saya akan bercerita mengenai proses perjalanan saya
dan kawan-kawan. Mohon maaf, bagi kawan-kawan lain yang ingin melihat reportase
jalur pendakian, sebab fokus tulisan saya bukan pada hal tersebut.
Jujur, keinginan untuk mendaki gunung bukanlah sebuah
cita-cita baru bagi saya. Sudah semenjak kecil saya mendambakan bisa mendaki
gunung, kira-kira usia sekolah dasar. Keinginan ini karena terpengaruh kakak
pertama saya yang memang hobi mendaki di masa mudanya. Jarak usia saya
dengannya terpaut cukup jauh, sehingga ketika kakak saya masih muda belia,
ibarat anak ayam saya masih piyik-piyik.
Jadilah, kakak ketiga saya yang diajaknya mendaki. Saya hanya bisa meratap
sedih sambil berguling-guling di lantai. Sampai saya duduk dibangku SMA,
cita-cita mendaki bukan semakin memudar. Saya obsesi sekali, namun apalah mau
dikata kondisi tidak memungkinkan. Hingga suatu hari dibangku perkuliahan,
cita-cita itu lambat laun menjadi kenyataan :D
Persiapan yang saya lakukan mungkin memang belum maksimal,
saya hanya berolahraga dua kali saja selama satu minggu, jogging, naik sepeda, dan olahraga kecil lainnya. Pada saat selesai
berlari, saya memang merasa nyeri di kaki sebelah kiri. Kala itu saya pikir
akibat sudah lama tidak berolahraga, sehingga saya tidak terlalu
memusingkannya. Ternyata dibalik itu, rasa nyeri saya bisa jadi sebuah alarm
untuk memperingati saya saat mendaki.
Awal pendakian, Alhamdulillah saya sehat-sehat saja, stamina
ok meski agak radang sedikit, kondisi kaki juga tidak ada tanda-tanda nyeri.
Saya dan keempat kawan mendaki di sore hari sehabis hujan turun, sebab waktu
pendakian kami memang pada musim hujan. Ini pula pendakian pertama saya di
musim hujan. Saya belum ada pengalaman sama sekali.
Malam menjelang, kami tiba di pos 2. Kawan saya selaku ketua
kelompok menyarankan untuk membuat tenda dan bermalam di sana. Tenda kami tidak
sendiri, ada satu rombongan lain yang juga mendirikan tenda di belakang tenda
kami. Berdasarkan cerita dari penjaga basecamp
dan warga sekitar yang kami tanyai, di Gunung Sindoro rawan pencurian alat-alat
pendaki ditambah pos 3 yang rawan dengan
babi hutannya. Agak tegang juga kala mendengar info tersebut.
Kami berangkat dari basecamp
Kledung, sebenarnya ada ojek yang bisa mengantarkan langsung hingga ke pos 1.
Namun, kami memilih untuk berjalan kaki sembari melakukan pemanasan. Suasana
berkabut dan langit mendung, sebab baru saja hujan datang menyinggahinya.
Sampai di pos 2, kami bermalam dan melanjutkan pendakian menuju puncak esok
hari sekitar pukul 08.00 WIB. Sarapan saya dan kawan-kawan merupakan sarapan
mewah di gunung yang pernah saya makan. Semalam saja, kami menyantap bakso yang
dibeli di bawah. Menu sarapan pagi itu adalah sandwich isi telur ceplok, keju, dan selada. Adapula nasi, nugget dan saos sambal. Lezat dan
bergizi bukan?
Kenyang sarapan, kami
lantas berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Barang-barang kami bawa kecuali
tenda dan beberapa bahan makan. Harapan kami semoga tidak ada pencuri yang tega
mengambil tenda pinjaman itu. Naik dan naik, track yang kami lalui kalau menurut saya pribadi cukup melelahkan.
Banyak batu-batu dan menanjak, bonus turunan atau jalan datar hanya beberapa
saja. Niat awal kami memang tidak sampai puncak, melihat waktu yang terbatas.
Terus saja saya dan kawan-kawan mendaki dengan sesekali beristirahat. Sholat
kami jamak, dzuhur dan ashar, maghrib dengan isya.
Gunung Sindoro tidak memiliki mata air disepanjang tracknya, jadi pintar-pintarlah mengatur
waktu minum Anda. Keluar dari hutan, sampailah kami di pos 3 yang ramai dengan
tenda-tenda pendaki lain. Pos 3 memang pos paling ramai, dimana-mana terhampar
tenda warna-warni. Sambil beristirahat sebentar, kami berfoto-foto ria dahulu
sebelum melanjutkan perjalanan.
Selama perjalanan dari pos 3 menuju pos 4, saya mulai
merasakan ngilu di kaki kiri saya. Saya pikir hal itu biasa saja, maka hanya
saya olesi salep dan memakai koyo. Tidak disangka, koyo yang panas dan salep
yang sudah saya olesi tidak berasa apa-apa sama sekali. Koyo yang saya pakai
malah lepas entah kemana. Kira-kira sudah setengah perjalanan menuju pos 4,
kedua kawan perempuan saya memilih untuk tinggal ditempat sebab kondisi yang
tidak memungkinkan, sehingga hanya saya dan kedua kawan laki-laki yang
melanjutkan perjalanan menuju puncak. Carrier
kami titipkan pada kawan perempuan saya, untuk mempermudah pendakian.
Rencana awal memang kami tidak berniat sampai puncak, nyatanya
kami tetap sampai puncak juga (disitu saya kadang merasa egois). Saya merasa
bersalah saja kepada kedua kawan saya yang menunggu dibawah. Janji kami memang
jam 11 turun, tapi karena optimis sedikit lagi sampai dan motivasi dari pendaki
lainnya saya jadi tergiur juga. Akhirnya naiklah kami hingga ke puncak Gunung
Sindoro tepat jam 12. 30 WIB. Foto-foto sebentar dan sholat, lantas kami turun.
Dan disanalah cerita lainnya berlanjut….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar