Rabu, 25 Maret 2015

Sindoro 1



Sindoro, sebuah gunung dengan ketinggian 3153 mdpl, terletak di daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Ini adalah pendakian kedua saya setelah Gunung Merbabu, dan di Gunung Sindoro pula puncak pertama saya berlabuh. Mengapa saya tulis cerita di gunung ini, sebab menurut saya pendakian kali ini benar-benar membuat saya terkesan. Saya adalah pendaki amatir..sebut saja newbie.
Disini saya akan bercerita mengenai proses perjalanan saya dan kawan-kawan. Mohon maaf, bagi kawan-kawan lain yang ingin melihat reportase jalur pendakian, sebab fokus tulisan saya bukan pada hal tersebut. 

Jujur, keinginan untuk mendaki gunung bukanlah sebuah cita-cita baru bagi saya. Sudah semenjak kecil saya mendambakan bisa mendaki gunung, kira-kira usia sekolah dasar. Keinginan ini karena terpengaruh kakak pertama saya yang memang hobi mendaki di masa mudanya. Jarak usia saya dengannya terpaut cukup jauh, sehingga ketika kakak saya masih muda belia, ibarat anak ayam saya masih piyik-piyik. Jadilah, kakak ketiga saya yang diajaknya mendaki. Saya hanya bisa meratap sedih sambil berguling-guling di lantai. Sampai saya duduk dibangku SMA, cita-cita mendaki bukan semakin memudar. Saya obsesi sekali, namun apalah mau dikata kondisi tidak memungkinkan. Hingga suatu hari dibangku perkuliahan, cita-cita itu lambat laun menjadi kenyataan :D

Persiapan yang saya lakukan mungkin memang belum maksimal, saya hanya berolahraga dua kali saja selama satu minggu, jogging, naik sepeda, dan olahraga kecil lainnya. Pada saat selesai berlari, saya memang merasa nyeri di kaki sebelah kiri. Kala itu saya pikir akibat sudah lama tidak berolahraga, sehingga saya tidak terlalu memusingkannya. Ternyata dibalik itu, rasa nyeri saya bisa jadi sebuah alarm untuk memperingati saya saat mendaki.
Awal pendakian, Alhamdulillah saya sehat-sehat saja, stamina ok meski agak radang sedikit, kondisi kaki juga tidak ada tanda-tanda nyeri. Saya dan keempat kawan mendaki di sore hari sehabis hujan turun, sebab waktu pendakian kami memang pada musim hujan. Ini pula pendakian pertama saya di musim hujan. Saya belum ada pengalaman sama sekali. 

Malam menjelang, kami tiba di pos 2. Kawan saya selaku ketua kelompok menyarankan untuk membuat tenda dan bermalam di sana. Tenda kami tidak sendiri, ada satu rombongan lain yang juga mendirikan tenda di belakang tenda kami. Berdasarkan cerita dari penjaga basecamp dan warga sekitar yang kami tanyai, di Gunung Sindoro rawan pencurian alat-alat pendaki  ditambah pos 3 yang rawan dengan babi hutannya. Agak tegang juga kala mendengar info tersebut. 

Kami berangkat dari basecamp Kledung, sebenarnya ada ojek yang bisa mengantarkan langsung hingga ke pos 1. Namun, kami memilih untuk berjalan kaki sembari melakukan pemanasan. Suasana berkabut dan langit mendung, sebab baru saja hujan datang menyinggahinya. Sampai di pos 2, kami bermalam dan melanjutkan pendakian menuju puncak esok hari sekitar pukul 08.00 WIB. Sarapan saya dan kawan-kawan merupakan sarapan mewah di gunung yang pernah saya makan. Semalam saja, kami menyantap bakso yang dibeli di bawah. Menu sarapan pagi itu adalah sandwich isi telur ceplok, keju, dan selada. Adapula nasi, nugget dan saos sambal. Lezat dan bergizi bukan?

Kenyang sarapan, kami lantas berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Barang-barang kami bawa kecuali tenda dan beberapa bahan makan. Harapan kami semoga tidak ada pencuri yang tega mengambil tenda pinjaman itu. Naik dan naik, track yang kami lalui kalau menurut saya pribadi cukup melelahkan. Banyak batu-batu dan menanjak, bonus turunan atau jalan datar hanya beberapa saja. Niat awal kami memang tidak sampai puncak, melihat waktu yang terbatas. Terus saja saya dan kawan-kawan mendaki dengan sesekali beristirahat. Sholat kami jamak, dzuhur dan ashar, maghrib dengan isya. 

Gunung Sindoro tidak memiliki mata air disepanjang tracknya, jadi pintar-pintarlah mengatur waktu minum Anda. Keluar dari hutan, sampailah kami di pos 3 yang ramai dengan tenda-tenda pendaki lain. Pos 3 memang pos paling ramai, dimana-mana terhampar tenda warna-warni. Sambil beristirahat sebentar, kami berfoto-foto ria dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. 

Selama perjalanan dari pos 3 menuju pos 4, saya mulai merasakan ngilu di kaki kiri saya. Saya pikir hal itu biasa saja, maka hanya saya olesi salep dan memakai koyo. Tidak disangka, koyo yang panas dan salep yang sudah saya olesi tidak berasa apa-apa sama sekali. Koyo yang saya pakai malah lepas entah kemana. Kira-kira sudah setengah perjalanan menuju pos 4, kedua kawan perempuan saya memilih untuk tinggal ditempat sebab kondisi yang tidak memungkinkan, sehingga hanya saya dan kedua kawan laki-laki yang melanjutkan perjalanan menuju puncak. Carrier kami titipkan pada kawan perempuan saya, untuk mempermudah pendakian. 

Rencana awal memang kami tidak berniat sampai puncak, nyatanya kami tetap sampai puncak juga (disitu saya kadang merasa egois). Saya merasa bersalah saja kepada kedua kawan saya yang menunggu dibawah. Janji kami memang jam 11 turun, tapi karena optimis sedikit lagi sampai dan motivasi dari pendaki lainnya saya jadi tergiur juga. Akhirnya naiklah kami hingga ke puncak Gunung Sindoro tepat jam 12. 30 WIB. Foto-foto sebentar dan sholat, lantas kami turun.

Dan disanalah cerita lainnya berlanjut….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar