Dari rahim sucinyalah kita lahir, dikandungnya kurang lebih sembilan bulan. Nyatanya, ada juga ibu yang tega menggugurkan janin kecilnya yang rapuh. Tapi pantaskah wanita penggugur itu disebut ibu, saya rasa tidak.
Ibu dengan kata lain sering diterjemahkan sebagai malaikat yang Tuhan titipkan pada kita sungguh tidak sesempurna yang kita dambakan. Tapi, Tuhan tahu potensi diri kita. Tuhan tahu malaikat mana yang tepat untuk mendampingi kita, tak akan pernah salah apalagi tertukar.
Betapa bencinya kita pada sosok malaikat itu, pada akhirnya dengan membuang segala kemunafikan diri, kita akan selalu merindukannya. Terkecuali pada orang-orang yang "sakit mentalnya". Dia semena-mena, dia acuh, dia kasar, tapi dirindukan. Kita rindu kehangatannya, fitrah seorang ibu, kelembutannya, kasih sayangnya, perhatiannya, hingga masakan gagalnya selalu menjadi sesuatu yang menusuk relung kalbu.
Rintihan mata ini sering menderu-deru tak jelas kala benci, kesal, rindu serta merta menyelimuti sukma. Malaikat ini benar-benar tidak bisa dibenci atau dicaci. Dia selalu termaafkan dengan sendirinya.
Mah, laper...
Pusing...
Masak apa, Mah?
Temenin..
Mah, beli jus ya?
Ga mau ah, nanti mienya jadi ga enak.
Mah, dicariin Tante...
Abis dari mana Mah?
Itu apaan Mah? Makanan ya?
Besok bawain bekel ya Mah.
Mah, jemput ya.
Mau kemana, Mah?
Tadi Bude telpon, nanyain Mamah.
Mah, besok disuruh bawa ini.
Ga bisa Mah.
Beli ini ya Mah?
Mah, besok pagi jangan lupa bangunin ya?






Tidak ada komentar:
Posting Komentar