Bahkan seandainya seumur hidupku kulalui hanya untuk menjelajahi setiap sudutnya, takkan mampu aku mengitarinya
Begitu mungkin perkataan seorang pesimistis
Nah, cobalah kau beri tahu aku letak perbedaan pesimistis dengan realistis
Mereka berbeda tapi terlihat mirip dalam pandanganku
Kawan, bagaimana kabarmu?
Aku dengar dunia semakin hina saja kelakuannya
Apakah keadaanmu baik-baik saja?
Belum lama aku mendapat kabar, bahwa keadaanmu kini semakin parah
Tak ada lagi tempat aman untukmu yang seharusnya menjadi hak semua umat manusia
Bagaimana bisa seorang manusia hidup tanpa rasa aman?
Akan tumbuh jadi apa kita?
Ditambah, kawan lain kita baru saja terkena dampak kehinaan mahluk-mahluk tak berakal
Di negeriku kami di pereteli satu demi satu, dihancurkan perlahan-lahan, sangat halus
Aku? bisaku berteriak dan kebingungan
Realitanya tak mampu aku membantu kalian
Atau aku hanyalah segumpal kepesimistisan?
Maaf..lagi-lagi kata itu yang terlontar dari ujung bibir ini
Ngilu hatiku karena yang kutahu kita adalah saudara, kawan
Aku dan kalian satu tubuh
Tapi mana peduliku?
Mampuku menyalahkan realita dan bertindak pesimistis
Aku tak mampu berbuat lebih, disaat kalian begitu membutuhkan
Maaf, kawan..
Mampuku hanya mengirimkan do'a kecil untuk kalian
Semoga Allah mengirimkan malaikat-malaikatnya untuk menjaga kalian
Semoga Allah mengirimkan malaikat-malaikatnya untuk menjaga kalian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar